Fenomena Sekolah Anak Jadi 'Gengsi' Ortu di Yogya, Bukan Gawai atau Kendaraan

Sedang Trending 51 menit yang lalu
Ilustrasi siswa sekolah. Foto: Ruud Suhendar/Shutterstock

Viral di media sosial, ratusan orang tua antre dari subuh untuk mendaftarkan anaknya di pengarahan belajar (bimbel) Exist nan terletak di sebuah gang di Jalan Gayam, Gondokusuman, Kota Yogyakarta.

Bagi sebagian orang tua dari kalangan menengah di Yogyakarta, sekolah anak menjadi topik nan lebih sering dibicarakan daripada kendaraan pribadi, gawai terkini, alias peralatan mewah lainnya.

Obrolan orang tua seputar pilihan sekolah, tempat les, hingga aktivitas nan dinilai dapat mengembangkan keahlian dan minat anak menjadi perihal nan umum dibicarakan.

Sejumlah orang tua mengantre untuk mendapatkan nomor pendaftaran Bimbel Exist di Jalan Gayam, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Selasa (1/9/2026). Foto: Panji/kumparan

Fenomena tersebut dirasakan Astri Wulandari, seorang ibu di Yogyakarta.

"Sejauh nan saya alami memang jika di Yogya itu saya enggak tahu terlepas dari stigma Yogya adalah Kota Pelajar alias bukan, tetapi di Yogya emang kenyataannya setiap kita ketemu sama orang tua, sesama orang tua tuh pasti nan diomongin tentang sekolah, gitu," kata Astri, Rabu (2/9).

Menurutnya, ini adalah pertanda baik lantaran orang tua di Yogya punya perspektif pandang nan luas tentang gimana mereka bertanggung jawab penuh untuk masa depan anak-anak mereka, terutama di bagian pendidikan.

"So far jika misalnya saya ketemu orang baru alias teman-teman kerja nan sehari-hari tuh nan kita omongin adalah sekolah anak, terus kemudian pilihan les. Les nan mungkin kaitannya selain les mata pelajaran juga les hobi, kayak gitu-gitu. Intinya nan gimana untuk meningkatkan keahlian anak-anak kita," katanya.

Rp 17 Juta untuk Masuk SD

Pendidikan nan baik sudah diberikan Astri kepada anaknya sejak dini. Saat ini, anak Astri duduk di kelas I sekolah dasar swasta favorit di Yogyakarta.

"Kayaknya kategori sekolah anakku, ya (biaya daftarnya) Rp 17 juta," katanya.

Astri juga memberikan beragam les untuk anak, seperti panjat tebing, les drum, dan les sains.

"Les sains itu kaya praktik-praktik bikin (karya sains) apa gitu," ujarnya.

Astri pun tak heran ketika viral orang tua di Yogya berebut tempat bimbel. Menurutnya, banyak orang tua nan berupaya memasukkan anaknya di SMA negeri favorit melalui jalur prestasi.

Sejumlah orang tua mengantre untuk mendapatkan nomor pendaftaran Bimbel Exist di Jalan Gayam, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Selasa (1/9/2026). Foto: Panji/kumparan

Biasanya, ketika tak bisa masuk sekolah negeri nan dituju, orang tua bakal memasukkan anaknya ke SMA swasta nan harganya lumayan mahal.

"Jadi ketika Anda masuk ke dalam satu ekosistem nan itu SD favorit, jalurnya tuh udah kelihatan, dia pasti bakal masuk ke SMP favorit, SMA favorit, kelak perguruan tingginya juga gitu," katanya.

"Jadi, mungkin ya jika negeri kan secara biaya enggak seluar biasa jika swasta, lantaran berasas hasil pengamatanku dan mensurvei sekolah-sekolah juga rupanya sekolah swasta di Yogya tuh luar biasa mahal," katanya.

Masuk PAUD Favorit meski Menguras Kantong

Kumoro, orang tua lainnya, menjelaskan dia dan istri rela merogoh duit lebih demi pendidikan anaknya.

"Anak saya dari PAUD sampai TK di yayasan swasta. Rencana SD lanjut di situ. Dulu biaya masuk PAUD Rp 6 juta, TK Rp 7 juta," kata Kumoro.

Meski anaknya tetap TK, Kumoro juga sudah mendaftarkan anaknya ke SD. Tujuannya agar mendapat kuota.

"Kalau telat bisa nggak dapat. Ya bayar masuk sekitar Rp 9 juta," katanya.

Demi sekolah anak, Kumoro kudu selektif dalam pengeluaran.

"Ya shopping busana jika betul-betul butuh. Gawai dan kendaraan juga selama tetap layak ya nggak perlu ganti," pungkasnya.

Les Coding hingga Grafis

Wicaksono mengatakan pendidikan anak adalah perihal nan paling penting.

Anaknya nan sekarang kelas 9 SMP sudah mengikuti beragam les sejak kecil.

"Ada les coding, grafis, animasi, hingga drum dan Bahasa Inggris. Kebetulan minatnya di IT," kata Pribadi.

Untuk biaya les ini, dia menghabiskan sekitar Rp 3 juta untuk coding selama satu semester. Lalu, untuk animasi sekitar Rp2,5 juta per tiga bulan.

"Drum lesnya Rp 1,5 juta untuk dua bulan," katanya.

Dia berambisi anaknya bisa masuk kuliah di bidang animasi ISI Yogyakarta seperti cita-cita sang anak.

"Ya semoga. Namanya untuk anak berupaya nan terbaik," ujarnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan