Fenomena haze alias udara kabur di Lombok.(Dok. Antara)
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan kejadian haze alias udara kabur saat ini menyelimuti Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kondisi ini memicu penurunan jarak pandang nan signifikan, terutama pada waktu-waktu tertentu.
Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), Ari Wibianto, menjelaskan bahwa kejadian ini terjadi seiring dengan masuknya musim kemarau. Rendahnya kelembapan atmosfer menyebabkan debu dan partikel kering melayang serta tertahan di udara dalam waktu lama.
"Karena tidak ada hujan, maka partikel-partikel padat tertahan di udara dalam waktu lama. Ketika partikel padat itu sangat padat, terbentuklah kejadian haze nan secara bentuk mengurangi jarak pandang," ujar Ari di Mataram, Senin (6/7/2026).
Jarak Pandang Menurun di Kawasan Bandara
Berdasarkan pengamatan BMKG dalam beberapa hari terakhir, jarak pandang di area Bandara Lombok sempat merosot hingga hanya satu kilometer pada awal hari. Namun, kondisi ini dilaporkan berangsur membaik saat intensitas sinar mentari mulai menguat pada siang hari.
BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi ancaman dari penurunan jarak pandang ini, terutama bagi sektor transportasi. Jarak pandang nan terbatas dapat meningkatkan akibat kecelakaan lampau lintas baik di darat maupun udara.
Dampak El Nino dan Puncak Kemarau
Penurunan kualitas udara dan jarak pandang ini berangkaian erat dengan kondisi cuaca ekstrem di NTB. BMKG memperkirakan kesempatan hujan di seluruh wilayah NTB berada di bawah 10 persen pada awal Juli 2026, menandakan wilayah tersebut telah memasuki fase puncak musim kemarau.
Kondisi ini diperparah oleh kejadian El Nino nan saat ini berada pada kategori moderat dengan indeks +1.61. Hal ini menyebabkan musim tandus tahun ini terasa jauh lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Waspada Kekeringan Meteorologis
BMKG telah menetapkan status waspada kekeringan meteorologis di empat kabupaten di NTB, meliputi:
- Kabupaten Lombok Tengah: Kecamatan Praya Barat.
- Kabupaten Lombok Timur: Kecamatan Jerowaru, Pringgabaya, dan Sambelia.
- Kabupaten Sumbawa: Kecamatan Moyo Utara dan Utan.
- Kabupaten Bima: Kecamatan Palibelo dan Tambora.
Selain gangguan jarak pandang, Ari Wibianto juga mengingatkan masyarakat untuk mengantisipasi potensi kebakaran hutan, lahan, maupun permukiman. Warga diminta tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan alias meninggalkan sumber api tanpa pengawasan guna mencegah musibah kebakaran di tengah cuaca kering nan ekstrem. (Ant/H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·