Ilustrasi(Dok Diskominfo Kota Bandung)
WALI Kota Bandung Muhammad Farhan mendorong pengelolaan zakat tidak berakhir pada penyaluran bantuan, tetapi bisa memberikan akibat nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Artinya, setiap support nan disalurkan perlu mempunyai ukuran keberhasilan nan dapat dilihat dari perubahan kondisi penerima manfaat.
"Pengelolaan amal perlu diarahkan pada pemberdayaan dan pengentasan kemiskinan. Karena itu, akibat dari support nan diberikan kepada mustahik kudu dapat diukur. Apabila kita berikan satu support kepada A, dalam waktu enam bulan kehidupannya bertambah baik alias tidak. Itu mesti ada ukurannya," terangnya.
Farhan menyebut, pendekatan tersebut sebagai impact measurement atau pengukuran dampak. Ukuran keberhasilan tidak cukup hanya memandang berapa besar biaya nan telah disalurkan, tetapi juga perubahan nan terjadi pada penerima faedah setelah mendapatkan bantuan. Ia menjelaskan, nan dihitung bukan hanya mengembalikan investasi, melainkan juga menghitung dampaknya. Ia menilai upaya tersebut memerlukan kerjasama beragam pihak. Pemerintah mempunyai keterbatasan jangkauan lantaran secara struktur pemerintahan berakhir hingga tingkat kelurahan.
"Sedangkan lembaga keagamaan, organisasi kemasyarakatan, badan amil zakat, majelis taklim, hingga jaringan personil DPRD mempunyai jangkauan nan lebih dekat dengan masyarakat. Di situlah kemitraan paling berfaedah antara struktur pemerintahan dengan lembaga-lembaga nan saya sebutkan tadi," tandasnya.
Karena itu, Farhan mengapresiasi kerja sama nan dibangun Baznas Kota Bandung dengan sejumlah pihak, mulai dari Dinas Sosial, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Tim Penggerak PKK, Tim Pembina Posyandu, Forum Bandung Sehat, hingga UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Kerja sama tersebut antara lain mencakup pemanfaatan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) dalam pendistribusian dan pendayagunaan zakat, verifikasi dan pengesahan info kependudukan mustahik, pemberdayaan keluarga, pelayanan Posyandu, peningkatan derajat kesehatan masyarakat, serta penelitian mengenai akibat amal dan pengembangan sumber daya manusia.
"Integrasi tersebut krusial agar support dapat diberikan secara lebih tepat sasaran sekaligus mendorong penerima faedah menuju kondisi nan lebih mandiri. Di sisi lain, saya mendorong peningkatan kapabilitas penghimpunan amal di Kota Bandung. Pemkot menargetkan penghimpunan Baznas Kota Bandung dapat mencapai Rp100 miliar per tahun dalam tiga tahun ke depan," ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Baznas Kota Bandung Momon Imron menyampaikan, sepanjang Januari hingga Juli 2026 Baznas Kota Bandung telah menghimpun biaya sebesar Rp16,347 miliar. Sekitar 92% dari penghimpunan tersebut berasal dari zakat, khususnya amal penghasilan, sementara sisanya berasal dari infak, sedekah, dan biaya sosial keagamaan lainnya.
"Pada periode nan sama, Baznas Kota Bandung telah mendistribusikan sekitar Rp15,2 miliar alias kurang lebih 95% dari biaya nan dihimpun. Penyaluran dilakukan melalui lima program utama, ialah pendidikan, kesehatan, ekonomi, kepedulian alias kemanusiaan, serta dakwah dan keagamaan," jelasnya.
Menurut Momon, pada penyaluran support periode Agustus 2026, Baznas Kota Bandung memberikan support kepada sekitar 470 penerima faedah dengan total sekitar Rp1,73 miliar.
Bantuan tersebut mencakup paket sembako, pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, modal usaha, biaya pengobatan, tunggakan BPJS, biaya hidup dasar, perangkat kesehatan, support rumah tidak layak huni, support kebencanaan, hingga tunggakan kontrakan.
Ia berambisi beragam program dan kerjasama nan dilakukan Baznas Kota Bandung berbareng Pemkot Bandung dan sejumlah lembaga dapat semakin meningkatkan kepercayaan masyarakat, khususnya para muzaki dan munfik, untuk menyalurkan amal dan infaknya melalui Baznas Kota Bandung.
"Mudah-mudahan nan hari ini kita lakukan semakin menambah kepercayaan dari para muzaki dan munfik nan sudah menitipkan di Baznas. Mudah-mudahan semakin menambah para muzaki dan munfik nan menitipkan amal dan infaknya di Baznas Kota Bandung untuk program peningkatan dan penanggulangan kemiskinan di Kota Bandung," imbuhnya. (AN/E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·