Ilustrasi.(Magnific)
TIONGKOK berada di jalur untuk mencatat rekor surplus perdagangan baru tahun ini, termasuk terhadap Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE). Fenomena ini muncul di tengah upaya intensif negara-negara Barat untuk membendung kekuatan industri Beijing melalui kebijakan tarif. Namun, info terbaru menunjukkan bahwa strategi perlindungan Barat mungkin telah kandas menghadapi realitas baru ekonomi Tiongkok.
Kegagalan kebijakan tarif Trump dan upaya proteksionisme Eropa sering kali dikaitkan dengan sektor-sektor strategis seperti kendaraan listrik (EV). Namun, tekanan nan dialami Barat sebenarnya jauh lebih luas, merambah hingga ke industri style hidup seperti sepatu olahraga.
Sebagai contoh, Nike, salah satu pemenang era globalisasi, sekarang mengalami penurunan nilai saham hingga tiga perempat dari puncaknya pada 2021. Masalah Nike di Tiongkok diperburuk oleh kebangkitan merek lokal seperti Anta dan Li-Ning.
Dua Wajah Ekonomi Tiongkok
Untuk memahami apa nan sebenarnya terjadi, kita kudu membedakan antara dua entitas ekonomi nan beraksi di Tiongkok:
- GVC China (Global Value Chain): Ini Tiongkok nan berfaedah sebagai pusat rantai nilai dunia nan dimiliki dan dikendalikan oleh pihak asing. Di sini, pabrik-pabrik milik asing menggunakan komponen impor untuk memproduksi peralatan ekspor. Tiongkok hanya mendapatkan upah, skill teknis, dan margin untung tipis, sementara nilai tambah terbesar dari merek dan pengedaran tetap berada di tangan perusahaan Barat.
- Sinochain (Emancipated China): Ini kekuatan baru saat Tiongkok berupaya mempunyai rantai nilai dari hulu ke hilir. Melalui strategi peremajaan nasional yang didorong oleh Xi Jinping, Tiongkok tidak lagi sekadar mau memproduksi peralatan untuk perusahaan asing, tetapi mau menguasai teknologi, merek, dan sistem industri itu sendiri.
Ironisnya, Tiongkok telah lama menekankan perbedaan ini. Pada 2017, mantan Perdana Menteri Li Keqiang mencatat bahwa 74% surplus peralatan Tiongkok dengan UE berasal dari perdagangan pemrosesan. Keuntungan utamanya justru mengalir ke perusahaan multinasional Barat.
Strategi Dual Circulation dan Kemandirian
Doktrin dual circulation nan diusung Beijing bermaksud untuk menghilangkan ketergantungan strategis pada rantai pasok nan dikendalikan asing. Tiongkok tidak mencari autarki (kemandirian total tanpa perdagangan), tetapi mau memastikan bahwa penduduk negaranya tidak lagi berjuntai pada merek dan teknologi Barat.
Namun, proses emansipasi ini tidak murah. Untuk mempunyai seluruh rantai nilai, Tiongkok kudu membiayai modal, teknologi, dan kekayaan intelektual secara mandiri. Hal ini menjelaskan skala subsidi nan masif, angsuran murah, dan support finansial nan diberikan kepada perusahaan-perusahaan nan diproyeksikan menjadi juara nasional.
Pergeseran dari GVC Lama ke GVC Baru
Persaingan saat ini bukan sekadar antara Tiongkok dan Barat, melainkan antara model rantai pasok lama dan baru. Perusahaan besar seperti Nike alias raksasa otomotif Barat membangun jaringan pabrik dan logistik nan luar biasa selama puluhan tahun. Namun, skala besar ini sering kali membikin mereka menjadi birokratis dan kurang kompetitif.
Di sisi lain, muncul pesaing baru seperti Hoka nan bisa memanfaatkan ekosistem manufaktur dunia tanpa kudu menanggung beban korporasi nan besar. Perusahaan-perusahaan Tiongkok sekarang melakukan perihal nan sama, tetapi dengan kontrol penuh atas rantai pasoknya sendiri.
Analisis Strategis: Perang dagang dan tarif mungkin tidak bakal mengakhiri globalisasi. Sebaliknya, tekanan ini justru menghancurkan benteng rantai pasok nan selama ini melindungi raksasa multinasional nan tidak inovatif, memaksa globalisasi untuk kembali menjadi kompetitif.
Jika tren ini berlanjut, surplus perdagangan Tiongkok nan membengkak bukan sekadar tanda mereka menjual lebih banyak barang, melainkan bukti bahwa Sinochain secara berjenjang mulai menggantikan kekuasaan perusahaan-perusahaan dunia Barat nan telah lama mapan. (The Telegraph/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·