ESDM Targetkan Produksi Migas Non Konvensional Dalam Waktu Dekat

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan pengembangan migas non konvensional (MNK) dapat mulai diimplementasikan dalam waktu dekat. Hal ini krusial untuk mengurangi ketergantungan impor.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan saat ini pemerintah berbareng Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) tengah mempercepat penyelesaian kerangka izin guna mendukung pengembangan bukan migas biasa tersebut.

Menurut dia, pengembangan migas non konvensional menjadi salah satu strategi pemerintah untuk meningkatkan produksi minyak dan gas bumi nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.

"Jadi untuk ini (MNK) sudah ada kajian awal nan dilakukan oleh Pertamina Hulu Rokan untuk pengembangan non konvensional ini. Jadi kita mengharapkan peningkatan produksi itu relatif signifikan," ujar Yuliot di Kementerian ESDM, Jumat (5/6/2026).

Ia membeberkan pemerintah tengah membahas sejumlah opsi teknologi nan ditawarkan beragam pihak untuk mendukung pengembangan MNK. Beberapa penyedia teknologi telah dipertemukan dengan SKK Migas guna membahas kesempatan penerapan di lapangan.

Yuliot mengungkapkan SKK Migas menargetkan kerangka izin pengembangan migas non konvensional dapat diselesaikan pada akhir Juni. Dengan demikian, penerapan awal dapat dimulai pada Juli mendatang.

"SKK Migas itu minta jika bisa akhir Juni ini sudah bisa diselesaikan kerangka regulasinya dan juga bisa diimplementasikan pada awal Juli. Jadi ini kita lagi berkejaran dengan waktu," ujarnya.

Sebelumnya, Praktisi minyak dan gas bumi (migas) Hadi Ismoyo menilai peningkatan produksi minyak melalui eksplorasi MNK di Blok Rokan patut didukung dan diapresiasi. Sebab, keberhasilan proyek MNK di AS bisa menjadi contoh, meski kondisi dan karakter teknik tidak sama persis.

Menurut Hadi, potensi MNK di Blok Rokan cukup besar, apalagi sumber daya MNK di Blok Rokan diperkirakan mencapai beberapa miliar barel.

"Sehingga eksplorasi MNK di sumur Gulamo#1 dan Kelok#1 menjadi pintu masuk untuk memandang apakah potensi MNK di Rokan itu secara teknis dan operational bisa komersial seperti di USA," kata Hadi kepada CNBC Indonesia, dikutip Selasa (9/7/2024).

Hadi menjelaskan bahwa untuk merealisasikan produksi minyak melalui sumur MNK sejatinya memerlukan waktu. Pasalnya, MNK adalah pengeboran pada layer unkonvensional, sehingga diperlukan teknik unik untuk menguras minyak dari reservoir.

"Ini memerlukan kajian nan mendalam sehingga produksi MNK ini optimum dan competitive. Mengingat MNK ini recovery factor rendah, untuk mendapatkan volume nan sama dari konvensional well, diperlukan jumlah sumur nan lebih banyak," katanya.

Sementara, jika rupanya dari production test di exploration well menunjukkan tanda tanda nan baik, maka perlu dilakukan pengeboran sumur deliniasi untuk memandang batas size dan pengetahuan ukur reservoir.

"Baik vertikal maupun lateral, sehingga bisa dihitung dengan baik dan jeli volume OOIP MNK tersebut. Jadi kudu bersabar beberapa bulan lagi sampai production test menunjukkan tanda tanda positif," katanya.

(pgr/pgr)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News