ESDM Hitung Harga Keekonomian Pertamax di Tengah Fluktuasi Minyak Dunia

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
ESDM Hitung Harga Keekonomian Pertamax di Tengah Fluktuasi Minyak Dunia ilustrasi(Antara)

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah melakukan kalkulasi mendalam mengenai nilai keekonomian bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax. Langkah ini diambil sebagai respons atas perubahan nilai minyak mentah bumi nan dipicu oleh dinamika geopolitik global.

Wakil Menteri ESDM, Yuliot, menjelaskan bahwa proses pertimbangan ini mencakup kalkulasi Biaya Pokok Penyediaan (BPP) nan dikeluarkan Pertamina ditambah dengan margin untung nan wajar. Pemerintah mau memastikan nilai nan dibayarkan masyarakat tetap sesuai dengan nilai keekonomian saat ini.

“Jadi kelak bakal dihitung BPP-nya Pertamina ditambah keuntungan. Nanti kami dari Kementerian ESDM bakal mencoba memandang kira-kira nilai nan ini keekonomiannya bagaimana,” ujar Yuliot di Jakarta, Rabu (29/7).

Potensi Penurunan Harga Pertamax

Yuliot menekankan bahwa nilai Pertamax sangat berjuntai pada pergerakan nilai minyak mentah di pasar internasional. Mengingat tingkat ketidakpastian dan perubahan nan tinggi akibat gejolak geopolitik, Kementerian ESDM bakal menggunakan skema kalkulasi rata-rata harga minyak dunia dalam periode tertentu.

Ia membuka kesempatan bagi PT Pertamina (Persero) untuk melakukan penyesuaian nilai ke bawah andaikan tren nilai minyak bumi menunjukkan penurunan nan konsisten dibandingkan periode sebelumnya.

“Kalau potensi kelak ini nilai minyak secara rata-rata turun, ya tentu dari Pertamina bakal menyesuaikan harga,” imbuhnya.

Tren Harga Minyak Dunia Terkini

Berdasarkan info pasar terbaru, nilai minyak bumi memang menunjukkan tren pelemahan. Pada perdagangan Selasa (28/7), nilai minyak mentah referensi Brent merosot lebih dari 2 persen hingga berada di bawah level 84 dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak pertengahan Juli.

Data perdagangan hingga pukul 13.55 WIB mencatat nilai minyak Brent untuk pengiriman Oktober turun 2,34 persen menjadi 83,86 dolar AS per barel. Jika dikonversi dengan kurs Rp18.070 per dolar AS, nilai tersebut setara dengan Rp1,51 juta per barel.

Kondisi serupa terjadi pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September nan melemah 2,28 persen ke posisi 80,73 dolar AS (Rp1,46 juta) per barel. Penurunan ini berbanding terbalik dengan lonjakan signifikan nan terjadi pada 23 Juli lalu, di mana Brent sempat menyentuh 100,07 dolar AS per barel dan WTI di level 91,48 dolar AS per barel.

Penyesuaian nilai BBM nonsubsidi seperti Pertamax dilakukan secara berkala oleh badan upaya dengan mempertimbangkan formula nilai dasar nan ditetapkan pemerintah serta perkembangan nilai minyak mentah dan kurs Rupiah. (Ant/E-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia