Erupsi Anak Krakatau, Warga Panik Rasakan Getaran: Trauma Tsunami 2018

Sedang Trending 53 menit yang lalu

Jakarta -

Seorang penduduk Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, Mohd Rizqi Baidullah, mengaku tetap merasakan getaran dan dentuman keras di tengah erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Dia mengatakan kondisi tersebut membikin masyarakat panik hingga sebagian mengungsi.

"Getaran jendela dan dentuman keras sesekali ini sudah kami rasakan sejak jam 2 awal hari tadi," kata Rizqi kepada detikcom, Sabtu (5/9/2026).

"Sempat kami kira hanya terasa di rumah kami saja tapi tadi pagi rupanya tetangga-tetangga kami semuanya sama merasakan," sambungnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia mengatakan sampai saat ini getaran tetap terasa. Sesekali, kata dia, getaran tersebut lenyap timbul.

"Hingga saat ini juga getaran tetap terasa tapi sesekali menghilang dan sesekali lebih besar," jelasnya.

Dia mengatakan situasi tersebut membikin penduduk panik. Dia menyebut sebagian penduduk pun memilih mengungsi.

"Masyarakat panik apalagi sebagian juga sudah ada nan pergi mengungsi. Sebagian tetangga udah ada nan mengungsi lantaran mungkin trauma bakal kejadian tsunami Selat Sunda tahun 2018 lalu," ungkapnya.

"Jujur kami masyarakat semuanya merasakan trauma mendalam bakal terjadi lagi tragedi tsunami selat sunda itu," sambungnya.

Meski begitu, dia mengaku tetap bingung dengan bunyi dentuman dan getaran tersebut. Dia berambisi ada info resmi dan pengarahan nan jelas dari pemerintah maupun lembaga mengenai terkait kondisi nan dirasakan.

"Sebetulnya kami juga belum bisa memastikan apakah getaran dan sesekali dentuman keras nan kami rasakan ini betul dari aktivitas vulkanik Gunung Krakatau lantaran kami sendiri bingung belum ada info resmi apapun dari pemerintah. Kami tetap bingung apa nan sebetulnya terjadi dan kudu melakukan seperti apa," imbuh dia.

Sebelumnya, BNPB mengatakan pemerintah memberi perhatian soal kekhawatiran masyarakat, khususnya nan tinggal di wilayah pesisir Banten dan Lampung terhadap potensi tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Kekhawatiran tersebut juga tidak terlepas dari pengalaman masyarakat terhadap peristiwa tsunami pada 22 Desember 2018 nan berangkaian dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

"Berdasarkan hasil pertimbangan nan dilakukan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau nan terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 tetap relatif mini dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala nan dapat memicu tsunami. Oleh karena itu, diharapkan kepada masyarakat agar tidak panik," kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Sabtu (5/9).

Meski demikian, PVMBG tetap melakukan pemantauan secara intensif terhadap perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau. Masyarakat diminta tetap mengikuti info dan rekomendasi resmi dari PVMBG serta tidak mengambil konklusi sendiri berasas aktivitas visual maupun bunyi dentuman nan terdengar.

(amw/dhn)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News