Erupsi Anak Krakatau Kini Berkarakter Strombolian

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Erupsi Anak Krakatau Kini Berkarakter Strombolian Tampilan foto udara erupsi Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Sabtu (5/9/2026).(ANTARA/HO-Badan Geologi KESDM)

BADAN Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini kembali berjalan dengan karakter erupsi strombolian. Perubahan pola erupsi tersebut terjadi setelah bagian erupsi menerus nan berjalan sekitar 25 jam berhujung pada 6 September 2026.

Sebagai informasi, erupsi menerus merupakan aktivitas erupsi nan berjalan secara kontinu dalam periode tertentu, dengan material vulkanik seperti abu, gas, dan lava nan keluar secara relatif terus-menerus. 

Sementara erupsi strombolian berjalan dalam corak letusan-letusan nan berselang alias episodik, umumnya ditandai lontaran material pijar akibat pelepasan gelembung gas di dalam magma.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan, hingga 8 September 2026 telah terjadi enam kali erupsi Strombolian sejak bagian erupsi menerus Gunung Anak Krakatau berakhir.

"Telah terjadi enam kali erupsi strombolian sejak bagian erupsi menerus berakhir. Kembalinya erupsi Strombolian sebagai karakter erupsi Gunungapi Anak Krakatau, untuk sementara ini diinterpretasikan sebagai akhir dari bagian erupsi menerus nan cukup panjang," kata Lana dalam pemaparan pertimbangan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau, Selasa (8/9).

Sebelumnya, satu bagian erupsi menerus terjadi sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan berhujung pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Episode tersebut berjalan selama sekitar 25 jam.

Kendati pola aktivitas vulkanik sekarang kembali menunjukkan erupsi Strombolian, Lana menegaskan dinamika Gunung Anak Krakatau tetap terus dipantau dan dievaluasi. Badan Geologi juga menilai probabilitas terjadinya letusan dalam beberapa periode waktu selanjutnya tetap tinggi.

"Perkembangan dinamika vulkanisme Gunungapi Anak Krakatau tetap terus dipantau dan dievaluasi," ujarnya.

Badan Geologi memperingatkan ancaman bahaya erupsi Gunung Anak Krakatau tetap dapat berupa lontaran batu pijar nan disertai hujan abu lebat. Selain itu, aliran lava juga berpotensi terjadi andaikan erupsi menerus kembali berlangsung.

Atas dasar pertimbangan tersebut, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap dipertahankan pada Level III alias Siaga. Masyarakat, wisatawan, dan pendaki dilarang memasuki radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Masyarakat nan terdampak hujan abu juga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah alias menggunakan masker untuk menghindari gangguan pernapasan. 

Sementara masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang dan tidak mempercayai rumor nan mengaitkan erupsi Gunung Anak Krakatau dengan potensi tsunam

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia