Erupsi Anak Krakatau, BMKG Sebut Peluang Muncul Tsunami di Bawah 40 Persen

Sedang Trending 36 menit yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan potensi tsunami akibat erupsi Gunung Anak Krakatau berada di tingkat rendah, ialah 40 persen.

Hal ini berasas pemantauan 20 sensor tsunami gauge di sekitar Selat Sunda hingga pukul 07.00 WIB tidak menunjukkan adanya anomali muka air laut.

"Analisis teknologi High-Frequency (HF) Radar Array di Carita dan Tanjung Lesung mencatat probabilitas tsunami pada saat tersebut berada di tingkat rendah (di bawah 40 persen), dengan tinggi gelombang laut nan terjaga di kisaran satu meter," kata Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan dikutip dari siaran pers, Minggu (6/9/2026).

Menurut dia, BMKG merekam adanya kejadian sekunder berupa gangguan geomagnetik dan petir vulkanik. Sensor di Lampung Selatan dan Serang mencatat adanya gangguan geomagnetik nan selaras dengan kenaikan sambaran petir vulkanik pada rentang waktu 12 jam terakhir.

"Namun, intesitas gangguan tersebut tidak sebesar letusan awal," ujarnya.

Ardhasena menyampaikanBMKG mengoptimalkan kesiapsiagaan nasional melalui skema pemantauan terpadu berbasis multi-instrument secara nonstop selama 24 jam penuh untuk mengantisipasi akibat dinamika erupsi Gunung Anak Krakatau.

"Pendekatan lintas instrumen ini bersinergi dengan kajian dari PVMBG-Badan Geologi guna menyajikan info nan presisi, cepat, dan akurat, sekaligus memperkuat koordinasi antarinstansi dalam mendukung pengambilan keputusan serta menjaga keselamatan penerbangan dan wilayah pesisir Selat Sunda," jelas dia.

Di sisi lain, BMKG mengimbau seluruh lapisan masyarakat, khususnya nan beraktivitas dan bermukim di sepanjang pesisir Selat Sunda, untuk meningkatkan kewaspadaan namun tetap tenang.

"Masyarakat diminta untuk menyaring seluruh info nan beredar dan tidak mudah terpengaruh alias menyebarluaskan isu-isu nan belum terverifikasi kebenarannya," tutur Andri.

Sebelumnya, BMKG melaporkan bahwa sebaran abu vulkanik nan disebabkan erupsi Gunung Anak Krakatau sudah sampai ke wilayah Jakarta dan Jawa Barat per Minggu (6/9/2026) pukul 07.00 WIB.

BMKG menyampaikan bahwa terdapat dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

"Berdasarkan info PVMBG dan VAAC Darwin serta kajian gambaran RGB Himawari-9, teridentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau," tulis BMKG di akun instagram resminya @infobmkg, Minggu (6/9/2026).

"Pada ketinggian hingga 20.000 ft, sebaran abu teramati ke arah timur-selatan, mencakup sebagian DK Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya," sambungnya.

Sementara itu, sebaran abu vulkanik klaste4 kedua mengarah ke arah Banten, Lampung, Bengkulu, hingga Selat Sunda bagian selatan. Sebaran abu mencapai ketinggian 50.000 kaki.

"Sementara pada ketinggian hingga 50.000 ft, sebaran teramati ke arah barat daya-barat laut, mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten," jelasnya.

Adapun prakiraan cuaca Gunung Anak Krakatau 6-8 September 2026 secara umum cerah hingga berawan, dengan arah angin dominan dari timur-tenggara dan kecepatan sekitar 31-37 km/jam.

"Masyarakat dan pengguna transportasi di sekitar wilayah terdampak diimbau untuk terus memperhatikan perkembangan info resmi dari BMKG dan lembaga terkait," kata BMKG.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita