Selama puluhan tahun, dia adalah saksi bisu nan paling setia. Ia berdiri tegak, memisahkan nan privat dari nan publik, nan hangat dari nan dingin. Namun, pada akhirnya, waktu adalah rayap nan paling rakus. Hari ini, kita tidak hanya mengganti sebuah perkakas kayu; sekarang, kita menguburkan sebuah pintu.
Kesetiaan dalam Keheningan
Pintu adalah barang nan paling sering disentuh namun paling jarang dipandang. Ia adalah "titik nol" dari setiap kepulangan. Tangan-tangan nan capek memutar kenopnya, bahu-bahu nan kangen menyandarkan beban padanya, namun mata sang penunggu selalu tertuju pada apa nan ada di baliknya, bukan pada dirinya.
Pintu tidak pernah mengeluh saat dihempaskan dalam amarah.
Ia menjadi perisai antara rahasia family dan bisingnya bumi luar.
Selama engselnya belum berderit, dia dianggap tak bernyawa.
Keruntuhan Sang Kayu
Kini, serat-serat kayunya tak lagi bisa menahan beban gravitasi. Ia mulai rapuh, bukan lantaran malas, melama lantaran terlalu capek menelan cuaca. Kelembapan musim hujan dan sengatan mentari musim tandus telah mengurai jiwanya.
Saat dia mulai susah dikunci, saat itulah kita menyadari bahwa sang penjaga telah sekarat. Ada kepedihan saat memandang sebilah kayu nan dulunya kokoh sekarang kudu "dibaringkan". Melepaskannya dari engsel terasa seperti mencabut nyawa dari raga nan sudah renta.
Makna di Balik Liang
Mengubur sebuah pintu adalah sebuah upacara simbolis tentang melepaskan masa lalu. Di kembali permukaannya nan lecet dan catnya nan mengelupas, terurai rangkaian makna nan mendalam:
Pintu merupakan metafora transisi. Matinya sebuah pintu berfaedah tertutupnya satu babak cerita dan dimulainya babak baru nan tetap asing.
Kita menangisinya bukan lantaran nilai kayunya, melainkan lantaran memori nan melekat pada setiap goresan di permukaannya. Goresan tinggi badan anak-anak nan sekarang sudah dewasa, alias jejak cakaran kucing nan telah tiada.
Membaringkannya di tanah adalah corak penghormatan terakhir. Ia tak lagi kudu berdiri tegak menantang badai; dia sekarang boleh menyatu dengan bumi, kembali menjadi akar.
"Setiap pintu nan tertutup selamanya adalah pengingat bahwa tidak ada nan betul-betul abadi, apalagi kesetiaan nan paling tak bersuara sekalipun."
Catatan akhir
Matinya sebuah pintu mengajarkan kita bahwa barang meninggal pun mempunyai degub dalam sejarah manusia. Saat dia dikubur dan ditangisi, kita sebenarnya sedang menangisi waktu nan terus melaju. Selamat tidur, sang ambang. Tugasmu menjaga rahasia kami telah usai. Kini, biarkan tanah nan menjagamu dalam keheningan nan paling purna.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·