Emiten Teknologi Ekspansi ke Properti dan Pangan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Emiten Teknologi Ekspansi ke Properti dan Pangan (MI/HO)

PT Wira Global Solusi Tbk menegaskan kembali identitas dan arah strategis perseroan sebagai perusahaan holding investasi berbasis teknologi nan membangun, berinvestasi, dan mengakselerasi beragam upaya potensial di Indonesia. Sejak tercatat di Bursa Efek Indonesia, WGSH dikenal sebagai emiten nan mempunyai fondasi kuat di sektor teknologi. 

"WGSH bukan hanya perusahaan IT. Kami perusahaan holding investasi nan menggunakan teknologi sebagai penggerak utama untuk membangun nilai di beragam lini bisnis. Dengan posisi ini, kami mau memperjelas bahwa peran WGSH adalah membangun ekosistem upaya nan lebih luas, berkelanjutan, dan relevan dengan kebutuhan ekonomi masa depan," ujar Ikin Wirawan, Komisaris Utama PT Wira Global Solusi Tbk.

Perseroan tidak hanya mendukung startup berbasis digital, tetapi juga mendukung sektor-sektor seperti agrobisnis, manufaktur, properti, nan dipadukan dengan teknologi. Beberapa proyek nan bakal berakibat ke pembukuan secara langsung, baik jangka pendek maupun menengah dan panjang, seperti Landlogic, Tumbara, dan Blue Phoenix. 

Landlogic merupakan proyek pengembangan properti nan dijalankan setelah WGSH mengakuisisi PT Lereng Lembah Madu pada 2025. Setelah proses akuisisi, lahan nan dimiliki telah displitzing menjadi 178 kaveling perumahan nan siap dikembangkan dan dipasarkan. 

Tumbara adalah perusahaan pengedaran produk pangan nan berfokus pada komoditas seafood. WGSH mempunyai kepemilikan saham sebesar 10% dan menjalin kerja sama dalam memasok udang vannamei kepada salah satu jaringan supermarket nasional di Indonesia. 

Blue Phoenix merupakan proyek ekonomi sirkular nan dijalankan WGSH melalui PT Qorser Teknologi. Fokus utama proyek ini adalah perdagangan limbah botol plastik PET nan telah melalui proses pencacahan menjadi flakes sebagai bahan baku daur ulang. 

Melalui Penambahan Modal Tanpa HMETD, perseroan menerbitkan 208.500.000 saham baru (dilusi 10%) dengan nilai per lembar minimal 90% dari rata-rata 25 hari bursa terakhir, diharapkan memberikan tambahan modal kerja sekitar Rp20 miliar-Rp30 miliar untuk pengembangan upaya terutama Blue Phoenix.
"Tambahan saham baru diharapkan menciptakan pasar saham nan lebih likuid. Kedua, esensial perusahaan bakal meningkat signifikan," tambah Ikin Wirawan.

Ke depan, Blue Phoenix mempunyai roadmap nan lebih luas, termasuk ke hulu (garbage collection) dan hilir (air minum dalam kemasan). Setelah PMTHMETD, WGSH bakal melakukan beberapa corporate action lagi sampai 2027. (I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia