Ketika mendengar istilah bank sentral, kebanyakan orang langsung membayangkan angka-angka ekonomi. Suku bunga, inflasi, dan nilai tukar menjadi topik nan identik dengan lembaga tersebut. Namun bumi nan terus berubah membikin pemisah antara rumor lingkungan dan rumor ekonomi semakin tipis. Apa nan terjadi di langit hari ini dapat menentukan apa nan terjadi di pasar besok hari.
Fenomena El Nino menjadi salah satu contoh paling nyata. Ia bukan sekadar istilah meteorologi nan muncul dalam laporan cuaca. Bagi negara agraris seperti Indonesia, El Nino dapat memicu kekeringan, mengganggu produksi pangan, dan pada akhirnya memengaruhi nilai kebutuhan pokok nan dikonsumsi masyarakat setiap hari.
El Nino umumnya ditandai dengan berkurangnya curah hujan dan meningkatnya akibat kekeringan. Kondisi tersebut dapat menurunkan produktivitas beragam komoditas pangan, mulai dari cabe hingga beras. Ketika hasil panen berkurang sementara kebutuhan masyarakat tetap tinggi, nilai mulai bergerak naik.
Sering kali indikasi tersebut pertama kali terlihat di pasar tradisional. Sebelum inflasi muncul dalam laporan statistik, masyarakat lebih dulu merasakannya melalui kenaikan nilai cabai, bawang merah, alias beras. Dengan kata lain, apa nan terjadi di langit perlahan bakal sampai ke meja makan.
Hubungan ini bukan sekadar asumsi. Dalam kajian inflasinya, Bank Indonesia mencatat bahwa kenaikan nilai jenis cabe pada awal 2025 dipengaruhi oleh gangguan produksi akibat curah hujan tinggi di sejumlah sentra pertanian. Temuan tersebut menunjukkan bahwa cuaca sekarang menjadi salah satu aspek nan semakin menentukan dinamika inflasi pangan di Indonesia.
Bank Sentral dan El Nino
Pada titik inilah El Nino mulai mengetuk pintu bank sentral. Bukan lantaran Bank Indonesia mengurus cuaca, melainkan lantaran akibat cuaca dapat memengaruhi mandat utama nan diembannya, ialah menjaga stabilitas nilai Rupiah dan inflasi.
Menyadari perihal tersebut, Bank Indonesia tidak bekerja sendiri. Bersama Pemerintah Pusat dan Daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID), beragam langkah dilakukan untuk memperkuat ketahanan pangan dan menjaga stabilitas harga. Upaya tersebut diperkuat melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) nan berfokus pada kesiapan pasokan, kelancaran distribusi, keterjangkauan harga, dan komunikasi nan efektif kepada masyarakat.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengendalian inflasi saat ini tidak lagi cukup dilakukan hanya melalui instrumen moneter. Stabilitas nilai juga memerlukan sawah nan produktif, irigasi nan berfungsi, pengedaran nan lancar, dan keahlian beradaptasi terhadap perubahan iklim.
Pada akhirnya, El Nino mengajarkan satu pelajaran penting. Stabilitas ekonomi tidak selalu ditentukan oleh apa nan terjadi di pasar finansial alias ruang rapat kebijakan. Terkadang, dia justru ditentukan oleh hujan nan datang terlambat, sawah nan mengering, alias musim nan tidak lagi dapat diprediksi.
Karena itu, menjaga inflasi hari ini bukan hanya soal suku kembang dan nilai tukar. Ia juga tentang menjaga ketahanan pangan dan memperkuat keahlian menghadapi perubahan iklim. Sebab ketika El Nino mulai mengetuk pintu bank sentral, sesungguhnya dia sedang mengingatkan kita bahwa masa depan ekonomi dan masa depan lingkungan tidak pernah melangkah di jalur nan berbeda. Mereka selalu bertemu, dan pertemuan itu sekarang semakin nyata.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·