Ekskalasi Karhutla dan Kekeringan di Kabupaten Sukabumi Terus Meningkat

Sedang Trending 4 hari yang lalu
Ekskalasi Karhutla dan Kekeringan di Kabupaten Sukabumi Terus Meningkat KEBAKARAN LAHAN: Petugas campuran dari beragam komponen berupaya memadamkan api nan membakar nyaris 18 hektare lahan jejak tebangan milik Perum Perhutani di Desa Bojongjengkol Kecamatan Jampangtengah.(Dok Pusdalops BPBD Kabupaten Sukabumi)

ESKALASI kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, condong meningkat. Berbagai peristiwanya dilaporkan terjadi di beragam wilayah. 

Manager Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, menuturkan akibat tandus ekstrem kurun sebulan terakhir mengakibatkan terjadinya karhutla di beragam wilayah. Penyebabnya kebanyakan akibat aspek cuaca menyusul peningkatan suhu udara. 

"Data nan dilaporkan ke BPBD, sejak sebulan terakhir terjadi 23 kali kejadian karhutla di beragam wilayah di Kabupaten Sukabumi," kata Daeng, Senin (10/8). 

Teranyar, kebakaran lahan terjadi di Kampung Lembursawah RT 14/03
Desa Cibuntu Kecamatan Simpenan pada Minggu (9/8) sekitar pukul 18.00 WIB. Api meludeskan lahan kosong seluas lebih kurang 5 ribu meter persegi milik penduduk setempat.

Hasil keterangan sementara, kebakaran diduga disengaja nan dilakukan orang tak bertanggung jawab. Akibat kejadian itu, puluhan rumah penduduk dalam kondisi terancam.

"Lokasi lahan nan terbakar dengan permukiman penduduk hanya berjarak sekitar 5 meter. Ada 30 rumah sempat terancam. Namun petugas campuran dibantu masyarakat setempat sukses memadamkan api," tuturnya.

Selain karhutla, tandus panjang juga mengakibatkan peningkatan eskalasi kekeringan, terutama krisis air bersih. Berdasarkan laporan nan masuk ke BPBD, terjadi 12 kali kasus kekeringan.

"Kami telah menyalurkan support air bersih bagi penduduk nan memerlukan bekerja sama dengan beragam instansi," ujar Daeng.

Secara umum, kurun sebulan terjadi 38 kali bencana. Selain karhutla dan kekeringan, terjadi pula musibah hidrometeorologi berupa cuaca ekstrem 1 kali, tanah longsor 1 kali, dan gempa 1 kali. (BB/E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia