Eks Relawan Prabowo-Gibran Kritik Narasi 'Pesimistis' Gerakan Sosial

Sedang Trending 2 hari yang lalu
Pemrakarsa 98 Resolution Network Haris Rusly Moti. Foto: Dok. Istimewa

Mantan Komandan Relawan Prabowo-Gibran, Haris Rusly Moti, menyorot narasi nan dia nilai pesimistis dari aktivitas sosial nan belakangan tengah digaungkan di beragam gerakan.

Haris menyatakan bahwa narasi seperti rumor kebangkrutan negara hingga seruan meninggalkan rupiah sangat bertolak belakang dengan semangat kemandirian nasional. Menurutnya, perihal ini tidak sejalan dengan sejarah aktivitas sosial di era kemerdekaan nan justru membangun narasi kedaulatan.

"Jika kita perhatikan narasi Indonesia bangkrut, sale Indonesia, hingga buang rupiah, ini adalah narasi nan tidak sejalan dengan semangat kemandirian bangsa. Tradisi aktivitas sosial kita semestinya menawarkan pandangan pengganti sebagai antitesis terhadap situasi nan menyimpang," ujar Haris, Minggu (14/6).

Haris melihat, arah kebijakan ekonomi di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini berupaya menghidupkan kembali semangat kemandirian ekonomi. Ia mencontohkan langkah pemerintah nan konsentrasi pada perbaikan sistemik, seperti pemberantasan kebocoran penerimaan negara, serta penekanan praktik under-invoicing dan transfer pricing.

"Ketika pengkritik menuntut pemberantasan korupsi, Presiden Prabowo melangkah lebih mendasar dengan membenahi kebocoran penerimaan negara. Ini adalah langkah konkret membangun ekonomi nan berdikari," tambahnya.

Terkait kritik terhadap beragam program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), pemberdayaan kampung nelayan, hingga pembangunan sekolah rakyat, Haris beranggapan bahwa kritik tersebut semestinya tidak menyasar pada eksistensi programnya. Menurutnya, jika terdapat oknum nan melakukan penyimpangan, maka penegakan norma terhadap oknum tersebut nan kudu dikedepankan.

"Kami prihatin jika ada aktivitas nan justru kontra terhadap kebijakan pro-rakyat. Menurut kami, jika ada pejabat nan korupsi dalam penyelenggaraan program, maka korupsinya nan kudu diberantas, bukan programnya nan dihentikan," tegas Haris.

Ia juga menilai, kritik nan hanya berfokus pada serangan pribadi terhadap Presiden justru mencerminkan kebuntuan gagasan. Ia menantang para pengkritik untuk menunjukkan kapabilitas intelektual dengan menyajikan bangunan kebijakan pengganti nan lebih substantif.

"Gerakan sosial nan konstruktif adalah nan bisa menawarkan solusi alternatif. Saya rasa, aktivitas nan tidak berpihak pada kesejahteraan rakyat luas bakal susah mendapatkan simpati publik," pungkasnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan