Ekonomi Tumbuh 5,61% pada Kuartal I 2026, Pemerintah Perlu Waspadai Perlambatan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Pekerja menyelesaikan pembangunan gedung bertingkat di Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Pemerintah dinilai perlu mewaspadai potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026, setelah mencetak realisasi nan tinggi pada kuartal I 2026 nan mencapai 5,61 persen (year on year/yoy).

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tercatat mencapai 5,61 persen secara tahunan, namun tercatat mengalami kontraksi 0,77 persen secara kuartalan (quarter to quarter/qtq).

Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengatakan pencapaian tersebut didukung aspek musiman hari besar keagamaan, terutama Imlek dan Idul Fitri nan waktunya berdekatan pada Maret 2026.

Selain itu, Wijayanto juga menyoroti shopping pemerintah nan melejit, mencapai 21,81 persen (yoy), dengan andil pengedaran ke PDB sebesar 6,72 persen. Sementara andil terbesar tetap dipegang konsumsi rumah tangga nan tumbuh 5,56 persen (yoy), dengan andil pengedaran sebesar 54,36 persen ke PDB.

"Faktor seasonal, di mana Nataru, Lebaran, dan Imlek terjadi nyaris berbarengan merupakan aspek penting, sehingga konsumsi masyarakat meningkat. Lalu, shopping pemerintah nan digeber sejak awal bulan ikut berkedudukan penting," ungkapnya kepada kumparan, Selasa (5/5).

Menurutnya, pemerintah menghadapi beragam tantangan untuk mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi nan tinggi pada kuartal II 2026, lantaran aspek musiman sudah tidak sebanyak pada kuartal sebelumnya.

Kondisi ini, lanjut Wijayanto, diperparah dengan kondisi perekonomian dunia nan memburuk dan berkapak pada volatilitas kurs Rupiah dan ketidakpastian suasana berupaya di Indonesia.

"Faktor seasonal tidak hadir, dan pada saat nan berbarengan tren pernurunan daya beli masyarakat terus bersambung diperburuk dengan imported inflation akibat krisis Iran-AS dan pelemahan Rupiah,"

Dia juga menilai sektor swasta nan condong wait and see bakal berakibat tidak hanya pada pembuatan lapangan kerja, namun juga terhadap penerimaan negara dan aktivitas ekonomi secara umum. Dengan begitu, dia menilai pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 bisa saja melambat.

"Hampir dipastikan bakal melambat, bisa jadi signifikan di bawah 5 persen," tegas Wijayanto.

Sementara itu, Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan realisasi pertumbuhan ekonomi jauh di atas ekspektasi dan proyeksi ekonom, meskipun angkanya perlu dibaca secara proporsional.

"Pertumbuhan tinggi tersebut mencerminkan kuatnya permintaan domestik pada Januari sampai Maret, terutama lantaran momentum Ramadan dan Idul Fitri, shopping rumah tangga nan meningkat, percepatan shopping pemerintah, serta pengaruh dasar nan rendah lantaran pertumbuhan kuartal I 2025 hanya 4,87 persen," jelasnya.

kumparan post embed

Josua menjelaskan, perlambatan ekonomi jika dibandingkan kuartal IV 2025 menandakan tidak semua aktivitas ekonomi sedang menguat merata dan tanpa tekanan.

Dia menuturkan, aspek pendorong utama tetap berasal dari konsumsi rumah tangga dan shopping pemerintah, masing-masing naik 5,52 persen dan 21,81 persen secara tahunan, menunjukkan realisasi shopping negara lebih sigap dibanding tahun sebelumnya, termasuk dorongan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), shopping barang, shopping modal, dan support sosial.

"Dengan kata lain, pertumbuhan kuartal I bukan hanya didorong konsumsi alami masyarakat, tetapi juga sangat terbantu oleh dorongan fiskal nan cukup besar," tutur Josua.

Sementara dari sisi investasi, pertumbuhan juga cukup baik lantaran Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,96 persen. Josua menilai perihal ini menunjukkan aktivitas investasi tetap berjalan, terutama pada bangunan, mesin, peralatan, dan aktivitas upaya nan berangkaian dengan percepatan proyek pemerintah maupun swasta.

"Namun catatannya, kualitas pertumbuhan investasi tetap perlu dicermati lantaran tekanan suku bunga, pelemahan rupiah, dan ketidakpastian geopolitik bisa membikin pelaku upaya lebih berhati-hati pada kuartal berikutnya," tegasnya.

Kendati demikian, Josua mencatat sektor eksternal belum menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sebab, ekspor hanya tumbuh 0,90 persen, sementara impor tumbuh jauh lebih tinggi 7,18 persen.

Permintaan domestik nan kuat, lanjut dia, juga mendorong kebutuhan impor, baik bahan baku, peralatan modal, maupun peralatan konsumsi tertentu. Sementara dari satu sisi, dia menilai kenaikan impor bisa menandakan aktivitas ekonomi dan produksi domestik mulai bergerak.

"Jika impor tumbuh jauh lebih sigap daripada ekspor, tekanan terhadap neraca perdagangan dan transaksi melangkah bisa meningkat, terutama ketika nilai minyak dunia tinggi dan rupiah melemah. Jadi, pertumbuhan kuartal I kuat, tetapi tetap menyimpan akibat dari sisi eksternal," ungkap Josua.

Tidak hanya itu, Josua juga menegaskan sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh paling tinggi sebesar 13,14 persen, mencerminkan pengaruh Ramadan, Idul Fitri, perjalanan, pariwisata, dan konsumsi di luar rumah tercatat positif lantaran menunjukkan sektor jasa pulih dan mobilitas masyarakat tetap kuat.

Namun demikian, dia beranggapan pola tersebut menunjukkan sebagian pertumbuhan kuartal I 2026 berkarakter musiman dan setelah momentum hari raya berakhir, sektor-sektor nan berjuntai pada mobilitas, konsumsi rekreasi, dan shopping musiman bisa mengalami normalisasi.

"Angka ini tidak boleh dibaca terlalu euforia lantaran sebagian besar didorong oleh aspek musiman Idul Fitri, percepatan shopping pemerintah, dan pengaruh dasar rendah. Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga agar konsumsi tetap kuat setelah Lebaran, memastikan shopping pemerintah tetap produktif, memperkuat investasi swasta, dan mengendalikan tekanan dari nilai energi, rupiah, serta biaya produksi," tandas Josua.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan