Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 diperkirakan tetap solid di atas 5 persen. Badan Pusat Statistik (BPS) bakal mengumumkan keahlian ekonomi Indonesia pada Selasa (5/4).
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai keahlian ekonomi awal tahun ini menunjukkan percepatan dibanding periode sebelumnya. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi dapat mencapai kisaran 5,44 persen secara tahunan.
“Untuk pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026, saya memperkirakan ekonomi tetap tumbuh di atas 5 persen, apalagi berpotensi mencapai sekitar 5,44 persen secara tahunan,” kata Josua kepada kumparan, Minggu (3/5).
Menurutnya, momentum Ramadan dan Lebaran nan seluruhnya jatuh pada kuartal I menjadi pendorong utama konsumsi. Belanja masyarakat untuk kebutuhan makanan, minuman, pakaian, transportasi, hingga akomodasi meningkat signifikan. Selain itu, parameter seperti indeks kepercayaan konsumen dan penjualan ritel turut menguatkan peran konsumsi sebagai motor utama ekonomi.
Tak hanya konsumsi, shopping pemerintah dan investasi juga memberikan kontribusi penting. Pemerintah disebut mulai mengakselerasi pencairan shopping sosial dan prasarana setelah sempat terkontraksi pada periode nan sama tahun lalu. Sementara itu, investasi terdorong oleh percepatan proyek infrastruktur, hilirisasi industri, hingga shopping modal BUMN.
Meski demikian, Josua mengingatkan adanya akibat dari pelemahan nilai tukar rupiah nan dapat meningkatkan biaya impor peralatan modal serta menahan minat investasi asing.
Di sisi lain, Ekonom LPEM UI Teuku Riefky memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 sedikit lebih tinggi, ialah 5,48 persen secara tahunan, dengan kisaran 5,46–5,50 persen. Sepanjang tahun 2026, pertumbuhan diperkirakan berada di level 5,15 persen.
Ia memandang fondasi pertumbuhan tetap ditopang oleh tren positif dari akhir 2025, ketika ekonomi tumbuh 5,39 persen pada kuartal IV. Saat itu, permintaan musiman akhir tahun dan beragam stimulus pemerintah seperti potongan nilai transportasi, support tunai, hingga subsidi angsuran UMKM menjadi pendorong utama.
Riefky juga mencatat konsumsi rumah tangga tetap menjadi pilar terbesar dengan kontribusi lebih dari 50 persen terhadap PDB. Sementara sektor manufaktur tetap menjadi mesin utama pertumbuhan dari sisi produksi.
Namun, tekanan inflasi sempat meningkat pada awal 2026 sebelum kembali mereda. Selain itu, surplus perdagangan tetap bersambung meski mengalami penyusutan tajam akibat pertumbuhan impor nan lebih sigap dibanding ekspor.
Pandangan serupa datang dari Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin. Ia memperkirakan pertumbuhan kuartal I berada di kisaran 5,4–5,5 persen, didorong aspek musiman nan berdekatan antara Natal dan Tahun Baru, Imlek, serta Lebaran.
“Kuartal I ini, saya percaya ekonomi bakal tumbuh sekitar 5,4-5,5 persen. Sebab utama adalah aspek seasonal, di mana Nataru, Imlek dan Lebaran terjadi secara berdekatan,” ujarnya.
Meski awal tahun terlihat kuat, Wijayanto memperkirakan pertumbuhan sepanjang 2026 justru condong melandai di kisaran 4,8–5,0 persen. Hal ini dipengaruhi oleh daya beli nan belum pulih, kenaikan nilai energi, serta pelemahan rupiah nan memicu imported inflation.
Ia juga menyoroti potensi gangguan dari aspek eksternal seperti disrupsi rantai pasok dunia dan akibat El Nino, nan dapat menekan pertumbuhan lebih dalam hingga kisaran 4,7–4,9 persen jika terjadi dalam intensitas tinggi.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·