Partai Komunis China (PKC) alias Communist Party of China (CPC) tengah bersiap-siap kembali menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) untuk ketiga kalinya. Pada tahun 2026, pertemuan pemimpin APEC bakal dipusatkan di Shenzhen.
Shenzhen dikenal sebagai kota teknologi dan termasuk pada area Greater Bay Area (GBA). Kawasan ini mencakup beberapa kota pesisir dengan pertumbuhan ekonomi paling pesat di China, ialah Guangzhou dan Shenzhen nan berada di Provinsi Guangdong, serta Hong Kong dan Makau.
Secretary of the CPC Guangdong Provincial Committee, Huang Kunming, mengatakan bahwa area GBA menjadi salah satu konsentrasi Presiden China dan Sekretaris Jenderal PKC Xi Jinping, nan dibangun menjadi kota berbobot tinggi dan pelopor modernisasi China.
"Guangdong selalu mengingat petunjuk ini, mengambil inisiatif untuk bertindak sebagai kekuatan pendorong dan mesin penggerak. Bekerja sama dengan Hong Kong dan Makau, kami telah mengubah cetak biru GBA menjadi realita nan menjanjikan," katanya saat Thematic Briefing Story of CPC di Shenzhen, China, Kamis (23/4).
Kunming mengatakan, GBA adalah wilayah nan unik dengan pembangunan terpadu antara Guangdong, Hong Kong, dan Makau melalui prinsip satu negara, dua sistem, tiga wilayah pabean, dan tiga mata uang. Dalam keadaan tersebut, lanjut dia, PKC konsentrasi pada peningkatan konektivitas dalam infrastruktur.
"Infrastruktur transportasi lintas batas, seperti Kereta Api Cepat Guangzhou-Shenzhen-Hong Kong dan Jembatan Hong Kong-Zhuhai-Makau, telah selesai dibangun. Kami telah meluncurkan serangkaian kebijakan, termasuk nan memfasilitasi arus lintas pemisah orang, kendaraan, aspek produksi, sumber daya, dan jasa pemerintah," jelas Kunming.
Proyek prasarana nan dikebut tersebut, menurut Kunming, membikin area GBA menjadi suatu kota dengan konektivitas nan erat dan pembangunan ekonomi nan terkoordinasi.
Hal ini terlihat dari pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) area GBA nan melesat, dari USD 10,2 triliun pada tahun 2017, menjadi lebih dari USD 15 triliun pada tahun 2025. Angka ini, lanjut Kunming, tidak termasuk PDB wilayah Guangdong lainnya.
"Kawasan ini telah membina tiga kota, Guangzhou, Shenzhen, dan Hong Kong, masing-masing dengan PDB melampaui 3 triliun yuan. Pertumbuhan nan kuat ini telah mendorong wilayah sekitarnya dan mendukung seluruh negara," tuturnya.
Kawasan GBA menjadi pusat ekosistem penemuan dan teknologi China seperti Huawei, BYD, Tencent, dan Gree, serta perusahaan teknologi baru seperti DJI, Insta360, SenseTime, dan UBtech. Menurutnya, GBA menjadi salah satu area paling terbuka dan bergerak secara ekonomi di China dan menghubungkan sirkulasi perdagangan baik itu domestik maupun internasional.
Kunming mencatat total volume throughput kontainer di GBA mencapai 89,62 juta TEU dan throughput penumpang airport mencapai 237 juta pada tahun 2025. Dia menyebut keduanya menempati ranking pertama di antara empat area pesisir utama di dunia.
"Proyek penanammodal asing dengan proyeksi investasi puluhan juta dolar, seperti BASP dan ExxonMobil, telah selesai dan mulai beroperasi. Semakin banyak perusahaan dan lembaga nan berinvestasi dan membangun kehadirannya di GBA," ungkap Kunming.
Kunming menegaskan bahwa serangkaian aktivitas APEC 2026 bakal dilaksanakan di Guangzhou dan Shenzhen. Ia berambisi bahwa perhelatan ini menciptakan kesempatan nan baik bagi perekonomian GBA.
"Saya dengan tulus mengundang Anda untuk menyaksikan perkembangan baru GBA dan dinamika baru modernisasi China, serta untuk memperkuat kepercayaan Anda dalam bergerak maju berbareng China dan mengejar kerja sama nan saling menguntungkan melalui kesempatan bersama," tegasnya.
Sementara itu, Ministry of the International Department of the CPC Central Committee, Liu Haixing, menjelaskan bahwa ekonomi GBA telah melampaui kota raksasa pesisir lain di seluruh, seperti New York dan San Fransisco sejak tahun 2024.
"Selama periode Rencana Lima Tahun ke-14, area Beijing-Tianjin-Hebei, Delta Sungai Yangtze, dan Kawasan GBA, nan hanya menggunakan 6,6 persen dari luas daratan China, menyumbang lebih dari 40 persen dari PDB nasional," jelasnya.
Kesiapan Shenzhen Jadi Tuang Rumah APEC
Secretary of the CPC Shenzhen Municipal Committee, Jin Lei, mengatakan bahwa pemerintah telah mempercepat pembangunan kota Shenzhen. Pada 2025, PDB Shenzhen mencapai USD 3,87 triliun dengan PDB per kapita sebesar 210.000 yuan.
"Intensitas energi, air, dan emisi karbonnya adalah nan terendah di antara kota-kota di China, menjadikan Shenzhen sebagai mikrokosmos pembangunan berbobot tinggi di China," tuturnya.
Lei melanjutkan, Shenzhen nan terintegrasi dalam area GBA ini memanfaatkan letak regional sebagai tetangga Hong Kong dan Makau, kelebihan sebagai pusat penghubung pasar domestik dan internasional, hingga budaya nan inklusif dan beragam.
"Volume perdagangan luar negeri total telah menduduki ranking pertama di antara kota-kota Tiongkok selama dua tahun dan ekspor telah menjadi nan terbesar selama 33 tahun," ungkapnya.
Tidak hanya itu, dia mengungkapkan bahwa intensitas pertumbuhan teknologi Shenzhen sangat besar, dengan investasi penelitian dan pengembangan (R&D) dan paten internasional Patent Cooperation Treaty (PCT) menduduki ranking pertama di antara kota-kota lain di China.
"Terdapat lebih dari 26.000 perusahaan teknologi tinggi nasional. Klaster teknologi Shenzhen-Hong Kong-Guangzhou menduduki ranking pertama di dunia," tutur Lei.
Lei menyebutkan, tahun 2026 merupakan tahun nan sangat krusial ialah peringatan 105 tahun berdirinya Partai Komunis China dan tahun pertama Rencana Lima Tahun ke-15. Pada November mendatang, Shenzhen bakal menjadi tuan rumah KTT APEC ke-33.
"Kami bakal dengan sungguh-sungguh melaksanakan petunjuk dari Komite PKC Provinsi Guangdong dan memberikan jasa untuk pertemuan APEC di mana kami bakal menunjukkan style China dan pesona serta karakter unik unik kami sehingga kisah Shenzhen bakal menunjukkan kemajuan modernisasi China," tandasnya.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·