Ilustrasi(Antara)
DIREKTUR Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menanggapi gelombang ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) nan semakin banyak bermunculan. Menurutnya, tren PHK terjadi sudah dalam beberapa tahun terakhir.
Hal itu kemudian bersambung pada tahun ini lantaran ada banyak aspek nan menambah tekanan bagi bumi usaha.
“Di beberapa tahun terakhir dan juga tahun ini terutama ada peningkatan dari sisi inflasi, terutama inflasi produsen lantaran nilai bahan baku meningkat,” ungkap Faisal kepada Media Indonesia, Rabu (24/6).
Selain itu, ada aspek pelemahan nilai tukar rupiah. Kemudian disrupsi lantaran aspek geopolitik sehingga biaya logistik menjadi lebih mahal ketika pengadaan untuk bahan baku dari luar negeri, termasuk nilai daya nan naik.
“Jadi ini berakibat kepada industri sehingga biaya produksi meningkat. Industri untuk bisa memperkuat tentu saja kudu melakukan efisiensi dalam kondisi peningkatan biaya seperti ini,” paparnya.
“Salah satu nan paling mudah dalam melakukan efisiensi biasanya adalah memang dengan mengurangi jumlah karyawan. Apalagi jika dari sisi produksinya juga turun akibat penjualannya nan mengalami penurunan lantaran beragam macam faktor. Termasuk aspek dunia nan mendorong inflasi di tingkat konsumen sehingga daya belinya turun,” jelasnya.
Faisal menambahkan sejumlah aspek nan lain. Misalnya kejuaraan di pasar dalam negeri nan makin ketat lantaran bersaing dengan produk impor, maupun pasar luar negeri akibat bersaing dengan negara-negara eksportir nan lain.
“Apalagi ada tambahan juga dari sisi halangan perdagangan nan meningkat. Karena proteksionisme meningkat nan dipicu juga oleh kebijakan Amerika Serikat,” ungkapnya.
Sementara untuk sektor nan rentan mengalami PHK massal, katanya, adalah nan paling tinggi peningkatan biaya produksinya. Itu biasanya adalah nan mempunyai ketergantungan impor nan cukup tinggi.
“Selain industri tekstil dan produk tekstil nan juga tinggi (risiko PHK) itu seperti industri keramik nan punya ketergantungan terhadap daya nan sangat tinggi, terutama gas. Harga gas itu kan meningkat luar biasa dari US$6 per MMBtu menjadi jika tidak salah US$23 sekarang,” ujar Faisal.
“Juga sejumlah industri lain juga terpengaruh seperti industri petrokimia nan ketika dihambat lampau lintas di Selat Hormuz itu mengakibatkan kenaikan biaya gas dan juga bahan baku untuk plastik,” tutupnya. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·