Jakarta -
PT Chandra Asri Pacific Tbk (Chandra Asri Group) melalui anak usahanya, PT Chandra Asri Alkali (CAA), membangun akomodasi Chlor Alkali-Ethylene Dichloride (CA-EDC) senilai lebih dari US$ 800 juta. Pembangunan akomodasi ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kapabilitas industri kimia nasional.
Proyek ini bakal mendapatkan support investasi dari Danantara Indonesia dan Indonesia Investment Authority (INA) sebagai mitra strategis. Progres pembangunan hingga Juli 2026 telah mencapai 72% dan proyek ditargetkan mulai beraksi pada 2027.
Direktur Eksekutif INDEF, Esther Sri Astuti, menilai pembangunan akomodasi CA-EDC mempunyai makna strategis bagi industri nasional. Menurutnya, peningkatan produksi bahan kimia krusial, seperti soda kaustik dan EDC domestik dapat memperkuat pasokan sekaligus menekan ketergantungan impor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kehadiran akomodasi ini dapat memperkuat substitusi impor untuk bahan kimia krusial seperti soda kaustik dan ethylene dichloride. Dengan meningkatnya produksi dari dalam negeri, ketahanan pasokan bagi industri domestik bakal semakin kuat dan ketergantungan terhadap pasokan luar negeri dapat ditekan," ujar Esther dalam keterangan tertulis, Jum'at (4/9/2026).
Signifikansi CA-EDC semakin besar lantaran produk nan dihasilkan merupakan bahan baku krusial bagi beragam sektor industri. Ketersediaan bahan baku tersebut di dalam negeri bakal memberikan kepastian pasokan sekaligus memperkuat daya saing industri hilir.
Menurut Esther, akibat proyek CA-EDC juga tidak berakhir pada pengurangan impor. Fasilitas tersebut mempunyai peran dalam mempercepat hilirisasi industri, lantaran produk nan dihasilkan menjadi bahan baku bagi beragam industri.
"Apabila rantai pasoknya juga melibatkan UMKM dan pelaku upaya lokal, multiplier effect-nya bakal semakin besar, baik melalui pembuatan lapangan kerja maupun pembentukan ekosistem industri kimia nan lebih kuat," jelasnya.
Dari sisi substitusi impor, produksi soda kaustik cair CA-EDC berpotensi menggantikan impor hingga 827 ribu ton per tahun, dengan nilai sekitar US$293 juta alias Rp4,9 triliun. Sementara itu, produksi EDC diarahkan untuk pasar ekspor dengan potensi menghasilkan devisa hingga US$300 juta alias sekitar Rp5 triliun per tahun.
Kombinasi antara substitusi impor dan potensi ekspor tersebut menjadikan CA-EDC mempunyai kontribusi strategis terhadap perekonomian nasional. Proyek ini juga berpotensi menempatkan Indonesia pada posisi nan lebih kuat dalam rantai pasok industri kimia regional dan global.
Selain itu, proyek ini menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja saat bangunan dan 250 pekerja saat beraksi penuh. Aktivitas proyek juga berpotensi mendorong pertumbuhan sektor pendukung, termasuk logistik, distribusi, penyimpanan, dan jasa industri.
Chandra Asri Group juga mengembangkan prasarana distribusi, penyimpanan, dan logistik nan mendukung CA-EDC untuk memperkuat integrasi rantai pasok. Perseroan juga menyiapkan studi kepantasan CA-EDC Tahap II dengan perkiraan investasi sekitar US$ 1 miliar guna memperkuat ekosistem industri kimia nasional.
Proyek berinvestasi lebih dari US$ 800 juta ini berkedudukan krusial dalam mendukung ketahanan bahan baku nasional serta menekan ketergantungan impor. Selain itu, akomodasi tersebut mendorong hilirisasi, menciptakan devisa, menyerap tenaga kerja, dan membangun industri nan terintegrasi.
Dalam perspektif tersebut, CA-EDC menjadi salah satu bagian krusial dalam memperkuat fondasi industri nasional sekaligus mempertegas peran Chandra Asri sebagai pemain strategis dalam menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku bagi industri Indonesia.
Pembangunan akomodasi CA-EDC krusial untuk memperkuat fondasi industri manufaktur nasional. Langkah ini sekaligus mempertegas peran Chandra Asri Group sebagai pemasok strategis bahan baku bagi industri Indonesia.
(anl/ega)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·