Ekonom Bank Mandiri Proyeksi Ekonomi RI Tumbuh 5,18 Persen pada 2026

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro di Plaza Mandiri, Jakarta, Rabu (21/2/2024). Foto: Ghinaa Rahmatika/kumparan

Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 5,18 persen sepanjang 2026, di tengah tingginya ketidakpastian global. Angka ini lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi 2025 sebesar 5,11 persen.

Andry memperkirakan inflasi Indonesia berada di level 3,53 persen pada 2026, naik dibanding proyeksi 2025 sebesar 2,92 persen. Nilai tukar rupiah juga diproyeksikan melemah ke level Rp 17.135 per dolar AS pada akhir 2026.

Sementara itu, BI Rate diperkirakan tetap berada di level 4,75 persen pada 2026, sedangkan Fed Funds Rate diproyeksikan turun ke 3,75 persen. Yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun diperkirakan berada di level 6,63 persen pada 2026.

Dari sisi perbankan, pertumbuhan simpanan diproyeksikan mencapai 10,61 persen pada 2026, sedangkan pertumbuhan angsuran diperkirakan sebesar 10,34 persen.

Andry menilai kondisi dunia tahun ini tetap bakal dibayangi ketidakpastian, terutama mengenai arah kebijakan suku kembang bank sentral Amerika Serikat (AS) alias The Fed.

“Jadi jika kita lihat dari guidance tahun 2026 itu, guidance-nya The Fed tetap ada ruang untuk kemudian pemangkasan satu kali suku kembang referensi di tahun 2026 ini. Namun jika lihat dari FOMC FedWatch, CME FedWatch, apalagi diperkirakan alias market memperkirakan bahwa tidak ada lagi pemangkasan suku kembang acuan,” ujar Andry dalam media gathering Bank Mandiri secara virtual, Senin (11/5).

Andry menjelaskan ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku kembang The Fed pada 2026 hingga 2027 sekarang semakin kecil. Padahal sebelumnya pasar berambisi siklus penurunan suku kembang nan garang pada 2025 dapat bersambung di tahun-tahun berikutnya.

“Nah ini adalah hal-hal nan kemudian memang perlu kita antisipasi,” kata Andry.

Andry menilai ketidakpastian dunia juga dipicu oleh aspek geopolitik dan akibat ekonomi nan tetap tinggi. Dia menyinggung agresivitas kebijakan luar negeri AS, termasuk tarif impor dari Presiden AS Donald Trump, hingga bentrok geopolitik di Timur Tengah.

“Dari sisi volatilitas dan aspek penentunya ialah aspek dari market wide-nya itu sendiri ada geopolitical risk dan juga economic risk, gimana jika kita lihat geopolitical risk-nya, ada garang US foreign policies, pengenaan tarif, walaupun sudah ditolak oleh Mahkamah Agung, namun Trump tetap tetap untuk kemudian menerapkan tarif tersebut,” ungkap Andry.

Selain itu, perang antara AS-Israel dan Iran juga dinilai menjadi salah satu aspek nan susah diprediksi dampaknya terhadap ekonomi global. Di luar akibat geopolitik tersebut, Andry menilai bumi juga tetap menghadapi perlambatan ekonomi dunia nan telah berjalan dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, beragam proyeksi menunjukkan pertumbuhan ekonomi dunia tetap bakal melambat pada 2026 sebelum mulai pulih pada 2027.

video story embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan