Edukasi Gizi dan Susu Anak Harus Berkelanjutan, Cegah Balita Minum Kental Manis

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Edukasi Gizi dan Susu Anak Harus Berkelanjutan, Cegah Balita Minum Kental Manis Tim dari Muslimat NU melakukan kunjungan ke rumah penduduk untuk melakukan edukasi mengenai gizi dan susu anak.(ISTIMEWA)

EDUKASI gizi dan susu untuk anak kudu dilakukan secara berkepanjangan agar balita tidak lagi mengonsumsi susu kental manis sebagai minuman alias pengganti susu pertumbuhan.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU, Erna Yulia Sofihara saat melakukan pertemuan dengan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat.

Dalam kesempatan itu, Erna menegaskan komitmen Muslimat NU memperkuat edukasi gizi melalui kader-kadernya nan tersebar hingga tingkat ranting.

“Dengan jaringan organisasi hingga tingkat ranting di seluruh Indonesia, Muslimat NU berambisi kader-kadernya dapat menjadi ujung tombak edukasi gizi di lingkungan family dan masyarakat ,” papar Erna.

Kekhawatiran bakal praktik salah susu untuk anak ini bukan tanpa sebab. Pasalnya, susu kental manis hingga sekarang tetap dikenal sebagai sebagai susu untuk anak.

Persepsi nan keliru tersebut berpotensi mendorong orangtua memberikan kental manis sebagai minuman alias pengganti susu pertumbuhan. Pemerintah melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menegaskan bahwa susu kental manis tidak diperuntukkan bagi kebutuhan gizi dan pertumbuhan anak.


DIKIRA SUMBER NUTRISI


Fakta di lapangan, diungkapkan Ani Maryani, penduduk Desa Pangauban, Kabupaten Bandung Barat, nan mengaku pernah memberikan susu kental manis kepada anaknya lantaran mengira produk tersebut dapat menjadi sumber nutrisi. Dari dulu keluarganya mengira kental manis adalah susu untuk pelengkap gizi anak.

Namun, dia tidak menyadari bahwa perubahan perilaku anaknya merupakan parameter adanya kebiasaan nan perlu diperbaiki. Salah satunya adalah kesulitan makan.

Ani mengungkapkan bahwa anaknya kerap menolak makanan utama dan lebih memilih makanan dengan cita rasa gurih alias manis. Selain itu, dari sisi pertumbuhan, perkembangan bentuk sang anak juga tidak menunjukkan peningkatan nan signifikan jika dibandingkan dengan usianya.

"Telur rebus enggak mau, maunya telur ceplok pakai kecap," ungkapnya.

Pengakuan Ani menunjukkan persoalan nan rupanya tetap banyak terjadi di masyarakat. Di kembali bungkusan nan identik dengan susu, tetap banyak orangtua nan belum memahami bahwa susu kental manis (SKM) bukan diperuntukkan sebagai susu pertumbuhan anak.

Sementara itu, hasil survei nasional Universitas Islam Bandung (Unisba) baru-baru ini menunjukkan pemberian kental manis sebagai susu untuk anak tetap tinggi. Dalam survei Unisba ditemukan 67,6% masyarakat tetap mengonsumsi susu kental manis sebagai pengganti susu pertumbuhan anak.

Lebih spesifik, di Jawa Barat, sebanyak 25,8% persen responden mengaku memberikan kental manis sebagai pengganti susu, sedangkan 57,90% menyatakan anak mereka tetap mengonsumsi kental manis hingga saat ini. Temuan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan kental manis pada anak tetap menjadi praktik nan cukup umum di masyarakat.


PERAN GENERASI MUDA


Upaya meningkatkan literasi gizi tidak dapat hanya mengandalkan tenaga kesehatan saja. Generasi muda juga mempunyai peran strategis sebagai pemasok perubahan nan bisa menyebarkan info berbasis kebenaran kepada family dan masyarakat melalui beragam ruang, mulai dari lingkungan sekitar hingga media sosial.

Salah satu wadah nan dapat dimanfaatkan adalah program Kuliah Kerja Nyata (KKN), saat mahasiswa berinteraksi langsung dengan masyarakat melalui beragam aktivitas edukasi dan pemberdayaan. Dengan kedekatan mereka terhadap teknologi sekaligus pengalaman berbaur di tengah masyarakat, mahasiswa dapat menjadi ujung tombak dalam meluruskan beragam miskonsepsi, termasuk dugaan bahwa susu kental manis merupakan minuman nan tepat untuk memenuhi kebutuhan gizi anak.

Ketua KKN IKIP Siliwangi di Desa Pangauban, Ahmad Nur Rasyidin, juga menilai info mengenai susu kental manis tetap perlu diperluas.

Menurutnya, meski dirinya mengetahui bahwa susu kental manis bukan produk nan tepat untuk balita, info tersebut belum tentu dipahami oleh seluruh masyarakat.

Rendahnya literasi gizi itu juga menjadi perhatian Kementerian Kesehatan.

Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, dr. Lovely Daisy, MKM, mengatakan tetap banyak masyarakat nan memahami susu kental manis sebagai minuman sehat bagi anak. Kondisi tersebut menunjukkan tetap rendahnya literasi gizi masyarakat, terutama mengenai pemenuhan kebutuhan gizi anak setelah masa ASI.

"Hasil ini tentu menjadi keprihatinan kita bahwa tetap minimnya pengetahuan gizi, terutama mengenai makanan pendamping ASI. Mereka memahami bahwa kental manis itu minuman nan sehat untuk anak mereka. Padahal kandungan susu pada kental manis sangat sedikit, apalagi sangat tinggi kandungan gulanya," tandas Lovely.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia