Dunia Was-Was Sama Utang RI, Anak Buah Purbaya Jamin di Bawah Rp600 T

Sedang Trending 4 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Indonesia telah menganggarkan shopping pembayaran kembang utang pada 2026 nyaris tembus Rp 600 triliun. Nilai beban kembang utang nan kudu dibayar negara itu membikin cemas lembaga pemeringkat utang dunia seperti S&P lantaran rasionya sudah di atas 15% dari pendapatan negara.

Sebagai catatan, peringkat utang dari S&P dan lembaga pemeringkat lainnnya kerap menjadi pedoman penanammodal dalam menanamkan modalnya di suatu negara.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto mengatakan, pemerintah memang telah menganggarkan shopping pembayaran kembang utang pada tahun ini senilai Rp 599,5 triliun. Namun, realisasinya kata dia biasanya bakal di bawah pagu anggaran nan disiapkan.

"Dari sisi realisasi kan terus kita kelola dan mengendalikan dengan baik. Harapan kita kelak realisasinya tidak sebesar itu," ucap Suminto di Kantor Pusat Kementerian Keuangan, Jakarta, dikutip Rabu (22/4/2026).

Menurut Suminto, dalam menganggarkan shopping kembang utang, pemerintah memang mematok nomor di level nan sudah mencakup seluruh potensi akibat tekanan, mulai dari kurs alias nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, hingga imbal hasil alias yield dari surat utang negara. Maka, untuk realisasinya bakal terus dikendalikan di bawah pagu.

"Kan sudah kita kalkulasi risiko-risiko nilai tukang maupun imbal hasil alias suku bunga, sehingga dengan pergerakan sekarang kita harapkan anggaran shopping kembang nan Rp 599 triliun. Tadi tidak hanya cukup tapi harapannya tetap dikendalikan dari sisi realisasinya," ujar Suminto.

Sebagaimana diketahui, anggaran shopping pembayaran kembang utang pemerintah pada tahun ini memang lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dalam APBN 20265 misalnya, dipatok di level Rp 552,1 triliun dan pada 2024 sebesar Rp 488,4 triliun.

Berdasarkan standar S&P, pemisah kondusif rasio shopping kembang utang terhadap pendapatan negara adalah 15%. Maka, ketika nilainya di atas standar itu, seperti Indonesia nan sudah sekitar Rp 599,5 triliun alias setara 19% dari sasaran pendapatan negara Rp 3.153,9 triliun mereka memberi warning.

Warning ini pun telah disampaikan langsung S&P kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di sela rangkaian aktivitas Spring Meetings IMF-World Bank, Washington DC, tepatnya pada Selasa (14/4/2026).

"Mereka mendiskusikan lebih dalam bahwa rating, pembayaran bunga, dibanding incomenya di atas 15%," ucap Purbaya melalui keterangan tertulis.

Merespons warning itu, Purbaya memastikan bahwa pemerintah Indonesia terus mengelola finansial negara dengan baik, sembari menyesuaikan aktivitas ekonomi masyarakat. Makanya, ketika pertumbuhan ekonomi RI makin cepat, dia memastikan penerimaan negara juga bakal tumbuh sigap sehingga bisa menekan rasio kembang utang terhadap pendapatan.

"Saya bilang itu bakal kita monitoring terus dan pastikan keadaan ekonomi tetap baik dan fiskal bakal tetap kita jaga dan tidak memburuk dari sisi pembayaran," kata Purbaya.

(arj/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News