Dunia Perang Lama, Prabowo: RI Aman-Banyak Negara Minta Beras

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan, Indonesia merupakan negara nan relatif kondusif dan damai, di tengah gentingnya kondisi bumi akibat peperangan nan berkecamuk di beragam bagian dunia.

Timur Tengah misalnya, hingga sekarang peperangan tetap terjadi antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Lalu, di area eropa, Ukraina dan Rusia tak kunjung bisa menyelesaikan bentrok bersenjata sejak 2022.

"Di tengah bumi nan penuh perang, perpecahan, konflik. Negara kita tetap cukup tenteram dan aman," kata Kepala Negara saat memberikan sambutan di aktivitas peresmian operasional 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP/KKMP) di Kabupaten Nganjuk, Sabtu (16/5/2026).

Di tengah kondisi nan kondusif dan tenteram di dalam negeri, pemerintah kata dia apalagi bisa menjaga swasembada pangan, nan berfaedah bisa memenuhi kebutuhan makanannya sendiri untuk 287 juta penduduk.

"Dalam kondisi itu, swasembada pangan dia tegaskan menjadi krusial lantaran urusan perut rakyat menentukan hidup dan meninggal suatu negara. Dan selalu saya katakan pangan adalah masalah hidup dan meninggal suatu bangsa," tutur Prabowo.

Ia menuturkan, tidak memandang pangan sebagai sekedar komoditas dan di tengah kondisi perang di beragam negara, apalagi bisa dilihat sebagai instrumen krusial survival suatu bangsa.

"Jadi saya tidak ikut-ikut paham-paham nan mengatakan bahwa beras, jagung, lebih efisien jika kita impor. Survival bangsa bukan sekedar lebih murah di mana lebih murah, tapi ada alias tidak," kata Prabowo.

"Dan akhirnya sejarah, takdir, dan realita membuktikan bahwa lantaran kita sudah lebih dulu kondusif soal pangan, krisis apapun di luar negara kita, kita relatif, relatif lebih aman, lebih siap menghadapi cobaan," paparnya.

Menurut Prabowo, pemahamannya itu pun terbukti sekarang. Saat bumi dalam kondisi perang, sekarang banyak negara minta beli beras dari Indonesia.

"Minta beli beras dari kita. Tetangga-tetangga kita. Mereka-mereka nan lebih dahsyat dari kita, nan menganggap dirinya lebih dahsyat dari kita, kan begitu? Tapi sekarang kudu datang ke Indonesia minta, "Boleh nggak kita beli beras?" Ada nan apa, ada nan tetap nilai diri ya kan, agak lamban mintanya gitu. Mungkin dia berupaya beli lagi dari mana," tutur Prabowo.

Prabowo menegaskan, banyak negara nan memilih untuk menghentikan ekspor komoditas pangannya ke luar negeri. Namun, Indonesia lantaran sudah bisa swasembada, tetap ada porsi produksi nan bisa digunakan negara lain, sehingga ada porsi diekspor.

"Ternyata berapa hari nan lalu, India mengumumkan tutup. Tidak ekspor beras, jagung, gandum. India tutup! Disusul oleh Bangladesh tutup. Akhirnya ada juga negara-negara nan akhirnya datang juga ke kita ya. Dan saya bilang, saya bilang, beri! Kalau mereka butuh, kita kudu bantu," papar Prabowo.

Tentu, nilai ekspor komoditas pangan Indonesia di tengah masa bentrok seperti saat ini tidak bakal dijual murah. Sebab, dia menilai petani Indonesia bisa dimakmurkan tanpa kudu menggetok nilai tak masuk akal.

"Kita jual kepada mereka. Tapi harganya ya, harganya ya nan oke lah, ya kan. Jangan petani kita korban! Iya kan? Harga harus, kudu minimal untung dikit lah. Jangan jual terlalu murah ya. Jangan ngetok tapi jangan jual terlalu murah. Ingat krisis bisa lama ini, ya. nan utama kita amankan rakyat kita dulu," tegasnya.

"Jadi ada juga mau beli beras lenyap itu minta korting, korting, banyak banget kortingnya bener nggak? Ini nan krisis bumi ini. Jadi saudara-saudara, itu apa nan sudah kita capai," ungkap Kepala Negara.

(arj/arj)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News