Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah terus memperkuat upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Berbagai dinamika, mulai dari eskalasi bentrok geopolitik hingga disrupsi rantai pasok global, memberikan tekanan terhadap keahlian industri dan stabilitas ekonomi.
Dalam konteks tersebut, Pemerintah mengambil langkah strategis nan terintegrasi guna memastikan perekonomian nasional tetap tumbuh dan resiliens.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono mengungkapkan sektor industri pengolahan, khususnya manufaktur, menjadi salah satu pilar utama nan diandalkan dalam menopang pertumbuhan ekonomi.
"Dengan kontribusi nan besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), pembuatan lapangan kerja, investasi, serta ekspor nasional, sektor ini mempunyai peran strategis dalam menciptakan nilai tambah dan memperluas lapangan kerja," ujarnya, dikutip Senin (4/5/2026).
Pada tahun 2025, pertumbuhan industri pengolahan tercatat sebesar 5,30%, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional nan sebesar 5,11%, dimana menjadi indikasi positif bagi penguatan struktur ekonomi ke depan.
"Dinamika dunia ini nan namanya ketidakpastian itu luar biasa, apalagi dengan beragam bentrok nan terjadi. Kita kudu antisipasi lantaran dampaknya bisa berjalan beberapa bulan ke depan dan memengaruhi beragam sektor ekonomi," kata Susiwijono.
Lebih lanjut, sektor industri pengolahan menjadi salah satu nan paling terdampak oleh dinamika global, terutama akibat gangguan rantai pasok. Keterbatasan bahan baku, kenaikan nilai input produksi, serta halangan logistik berpotensi menekan keahlian industri, baik dari sisi produksi maupun distribusi.
Untuk itu, Pemerintah terus melakukan langkah antisipatif untuk menjaga keberlanjutan aktivitas industri. Di sisi kebijakan, Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 4 Tahun 2026 tentang Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi. Kebijakan tersebut diharapkan bisa mempercepat penerapan program prioritas serta menjawab halangan nan dihadapi pelaku upaya dan investor.
"Intinya ini percepatan program untuk sorong ekonomi, tapi sangat efektif, lantaran selain bicara di level policy, kita juga pegang kepentingan ekonomi. Dengan koordinasi nan intensif, diharapkan ini bisa menjadi solusi saat para penanammodal dan pelaku industri menghadapi beragam kerumitan, sehingga ada kepastian dan angan untuk penyelesaiannya," jelas Susiwijono.
Sebagai langkah konkret, dia menegaskan Pemerintah telah menyiapkan beragam kebijakan mitigasi untuk mendukung industri pengolahan, termasuk pemberian kemudahan akses terhadap bahan baku serta penyesuaian kebijakan impor untuk menjaga keberlangsungan produksi.
"Pemerintah juga terus memantau sektor-sektor industri nan paling terdampak guna memastikan respons kebijakan dapat dilakukan secara sigap dan tepat sasaran," ujarnya.
Selain itu, stabilitas makroekonomi tetap menjadi prioritas utama, khususnya dalam menjaga inflasi, nilai tukar, dan daya beli masyarakat. Kebijakan fiskal dan moneter terus disinergikan agar tetap mendukung aktivitas ekonomi tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian. Menurut Susiwijono, upaya tersebut diharapkan dapat menjaga suasana upaya tetap kondusif serta mendorong investasi di sektor industri pengolahan dan manufaktur.
"Dinamika dunia saat ini betul-betul berpengaruh terhadap industri manufaktur dari segala sisi, baik dari sisi bahan baku maupun produksi. Gangguan rantai pasok ini kudu kita antisipasi bersama, lantaran dampaknya bisa meluas ke inflasi, nilai tukar, hingga daya beli masyarakat," pungkas Susiwijono.
(haa/haa)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·