KARIM JAAFAR / AFP(Timnas Qatar)
KANADA tak punya banyak ruang untuk melakukan kesalahan ketika menghadapi Qatar pada laga kedua Grup B Piala Dunia 2026 di BC Place, Vancouver, Jumat (19/6) pukul 05.00 WIB. Setelah sama-sama membuka turnamen dengan hasil imbang, duel ini berpotensi menjadi penentu langkah kedua tim menuju fase gugur.
Di atas kertas, Kanada lebih diunggulkan. Namun, sorotan justru mengarah kepada penyerang utama mereka, Jonathan David, nan tengah mengalami periode susah dan belum menunjukkan ketajamannya dalam beberapa bulan terakhir.
Sejak pindah ke Juventus pada awal musim ini, performa David jauh dari ekspektasi. Penyerang nan sebelumnya begitu produktif berbareng Lille itu apalagi bakal genap setahun tidak mencetak gol dari situasi permainan terbuka untuk timnas Kanada.
Situasi tersebut mulai menjadi perhatian pembimbing Jesse Marsch. Padahal, David merupakan sosok sentral dalam permainan Kanada. Tidak ada pemain nan mendapat menit bermain lebih banyak di era Marsch selain dirinya, dengan total nyaris 2.000 menit tampil. Dia juga tetap menjadi pencetak gol terbanyak tim dengan 14 gol sepanjang periode tersebut.
Namun, ketika Kanada memerlukan gol penyeimbang saat bermain seri 1-1 melawan Bosnia Herzegovina pada laga pembuka, Marsch justru menarik David keluar pada menit ke-61. Keputusan itu memunculkan tanda tanya mengingat peran vital sang penyerang selama ini.
Meski demikian, Marsch tetap meletakkan kepercayaan besar kepada pemain nan kerap dia sebut sebagai salah satu pesepak bola paling pandai nan pernah dilatihnya.
Kanada sendiri kandas tampil lepas pada laga perdana. Status tuan rumah berbareng dan ekspektasi tinggi tampak membebani permainan mereka. Serangan-serangan Les Rouges kerap mentok akibat buruknya sentuhan akhir dan kurang tenangnya penyelesaian peluang. Marsch berambisi timnya bisa belajar dari pengalaman tersebut.
"Kami kudu mempunyai lebih banyak kepercayaan diri dan kepercayaan terhadap keahlian sendiri agar bisa menjalankan pertandingan sesuai nan kami inginkan, baik secara taktik, psikologis maupun mental," kata Marsch.
"Bagi kami, sangat krusial memanfaatkan pengalaman ini untuk menjadi lebih baik, lebih kuat, dan lebih siap menghadapi pertandingan berikutnya sesuai gambaran permainan nan kami inginkan," imbuhnya.
Selain menunggu ketajaman David kembali muncul, Kanada juga tetap memantau kondisi kapten tim Alphonso Davies. Bek sayap Bayern Muenchen itu tidakhadir pada laga pembuka akibat cedera hamstring. Kehadirannya diyakini dapat memberi dorongan besar bagi permainan Kanada, terutama dalam pertandingan krusial seperti ini. Dukungan publik Vancouver juga diharapkan menjadi senjata tambahan.
"Saya mengenal para suporter di Vancouver. Ini kota sepak bola. Mereka mencintai tim nasional mereka. Saya berambisi stadion kembali penuh dengan lautan jersey merah," kata Marsch.
"Kami memerlukan support penonton untuk mendorong tim, memberi tekanan kepada wasit, dan menciptakan atmosfer nan susah bagi lawan. Kami bakal memerlukan itu di Vancouver," ucapnya.
Secara statistik, Kanada juga mempunyai pekerjaan rumah tersendiri. Dalam tujuh pertandingan Piala Dunia nan pernah mereka jalani, enam kali mereka kebobolan lebih dulu. Hasil seri melawan Bosnia pada laga pertama menjadi satu-satunya kesempatan Kanada sukses bangkit setelah tertinggal.
Di kubu lawan, Qatar datang dengan modal kepercayaan diri setelah mencuri satu poin lewat gol penyama kedudukan pada masa injury time saat bermain 1-1 melawan Swiss. Tim didikan Julen Lopetegui menunjukkan daya juang tinggi meski terus ditekan sepanjang pertandingan.
Meski demikian, performa Qatar tetap belum meyakinkan. Juara Asia dua jenis terakhir itu belum pernah menang dalam tujuh pertandingan beruntun dan selalu mencetak maksimal satu gol dalam periode tersebut.
Qatar juga belum pernah merasakan kemenangan di Piala Dunia. Namun, hasil seri pada laga pertama memberi mereka kesempatan nan sama besar dengan Kanada lantaran seluruh penunggu Grup B saat ini mengoleksi satu poin. (AFP)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·