Dudung Respons Habib Rizieq yang Singgung 'Jenderal Baliho'

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Jakarta -

Kepala Kantor Staf Presiden Dudung Abdurachman buka bunyi soal pernyataan Habib Rizieq Shihab nan menyinggung 'Jenderal Baliho' membisiki Presiden Prabowo Subianto soal pernyataan 'kabur ke Yaman'. Dudung menepis dirinya nan membisiki Prabowo.

Mulanya Dudung menegaskan secara pribadi tidak lagi mempunyai persoalan dengan Habib Rizieq. Ia menjelaskan tindakan penurunan iklan nan pernah dilakukan sebelumnya berangkaian dengan status organisasi Front Pembela Islam (FPI) nan saat itu telah dibekukan pemerintah.

"Oh, nan Presiden katanya kabur ke Yaman itu lantaran di belakangnya ada Jenderal Baliho itu kan? Ya, jika menurut saya, antara saya dengan Habib Rizieq sudah nggak ada masalah sebetulnya," kata Dudung di Kantor Bina Graha, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026).

"Karena sebetulnya dulu waktu saya menurunkan iklan juga kan, lantaran FPI itu kan waktu itu organisasi memang sudah dibekukan di tahun 2019," lanjutnya.

Saat itu Dudung menjabat Pangdam Jaya. Menurut Dudung, munculnya kembali pengaruh FPI kala itu dipicu oleh narasi 'revolusi akhlak' nan dinilai berpotensi mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa.

"Nah, nan menguatnya itu menurut saya lantaran ada ajakan-ajakan revolusi akhlaklah, nan kemudian akhirnya dari narasi-narasi nan disampaikan mengajak, kemudian mengembangkan kegiatan-kegiatan nan menurut saya memang mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa," ujarnya.

Ia menyebut langkah penindakan saat itu sudah dikoordinasikan. "Dan nan membubarkan itu kan Kemendagri, Menko Polhukam. Kalau tetap ingat kata-kata saya pada saat di Monas, 'Kalau perlu FPI bubarkan'. Dan bener dibubarkan. Sebetulnya memang sudah dibekukan," lanjut Dudung.

Terkait pernyataan Habib Rizieq nan mengaitkan dirinya dengan narasi politik tertentu setelah menjabat Kepala Staf Kepresidenan, Dudung membantahnya. Dia menegaskan tidak pernah membisiki apa pun ke Prabowo.

"Nah, sekarang ramai seakan-akan bahwa saya jadi KSP kemudian akhirnya narasi dari Bapak Presiden itu muncul. Ya itu bukan, bukan dari saya," ujarnya.

Ia juga membujuk semua pihak, termasuk Habib Rizieq, bersama-sama menjaga ketenangan di tengah krisis global. Dudung mengingatkan pentingnya menjaga persatuan nasional dan tidak terprovokasi oleh isu-isu nan berpotensi memecah belah.

"Tapi artinya bahwa menurut saya bahwa Pak Rizieq, ya, sudah tualah, sudah sama-sama tua. Ya marilah kita bangun bangsa ini dengan keteduhan, dengan tidak memprovokasi," ujarnya.

Ia menyebut, sebagai ulama, Habib Rizieq semestinya meneduhkan, bukan sebaliknya. "Saya lihat bahasa-bahasanya tidak pernah berubah, bahasa-bahasa lama dengan sekarang itu ya. Kalau dikatakan sebagai ulama, ustadz itu nan selalu meneduhkan, ya," lanjutnya.

Dudung membujuk Habib Rizieq berpikir jernih. Dia juga mengingatkan pentingnya untuk tidak berprasangka.

"Berpikir jernih, matanya tidak pernah merendahkan orang lain, mulutnya tidak menjelekkan orang lain, hatinya juga dia tidak berprasangka jelek kepada orang lain, dan tangannya juga tidak dikotori dengan hal-hal nan tidak baik. Makanya jaga mata, jaga hati, dan jaga mulut," imbuhnya.

Pernyataan Habib Rizieq

Adapun pernyataan Habib Rizieq bermulai saat dirinya menanggapi ucapan Prabowo. Dia menduga Prabowo terpengaruh sejumlah pihak nan sekarang menjadi pembantu serta penasihatnya di pemerintahan. Padahal, menurutnya, Prabowo tidak pernah menyinggung perihal serupa selama memimpin.

"Gara-gara apa tuh itu? Punya kawan jelek, Saudara. Satu tahun separuh presiden kita nggak pernah ngomong begitu, kenapa hari ini dia mengatakan begitu?" kata Rizieq dalam tayangan video di akun YouTube OfficialIslamicBrotherhoodTV.

Rizieq menyoroti pertemuan Prabowo sebelumnya dengan orang nan dia sebut sebagai 'menteri segala urusan' pada era presiden sebelumnya.

"Dulu kan nan bicara begitu bukan presiden, ada menteri segala urusan tahu kan? Dipanggil lagi ditemuin diajak ngobrol ada apa? Nular, Saudara," ujar Rizieq.

Rizieq merasa pernyataan Prabowo tersebut tidak terlepas dari pertemuan Prabowo dengan tokoh nan dia sebut 'menteri segala urusan'.

"Kalau dulu ada menteri segala urusan nyebut ngusir luar negeri jika mau protes-protes. Presiden kita minta nasihat tahu-tahu ngomongnya sama, pergi ke luar negeri," ujar Rizieq.

Rizieq menyoroti istilah Yaman nan dikeluarkan Prabowo beriringan dengan pernyataan sebelumnya. Menurut Rizieq, Prabowo mengucap kata Yaman lantaran terpengaruh seseorang nan dia sebut 'Jenderal Baliho'.

"Sekarang ada tambahan malah pergi ke Yaman. Dari mana nih kata Yaman keluar, Saudara?" kata Rizieq.

"Eh rupanya ada sebabnya lagi ada Jenderal Baliho nan udah lama nggak dipakai Saudara udah diparkir eh tahu-tahu kemarin dipanggil ke Istana, diangkat menjadi penasihat presiden bagian pertahanan nasional, dilantik lagi, Saudara," kata Rizieq.

Habib Rizieq mempertanyakan argumen Prabowo mengangkat sosok nan disebutnya 'Jenderal baliho' sebagai penasihat. Rizieq juga mengungkap dugaan adanya keterlibatan Jenderal Baliho dengan kasus Km 50.

"Jenderal Baliho ini Saudara diduga kuat dengan bukti-bukti nan kita miliki indikasi-indikasi nan sudah kita kumpulkan, Saudara. Satu, langsung alias tidak langsung dia terlibat dalam tragedi Km 50. Setidaknya dia ikut siaran pers nan penuh ketidakejujuran berbareng Kapolda Metro Jaya saat itu dengan bukti-bukti tiruan dengan pestol palsu, peluru palsu, Saudara, semuanya serba palsu," tutur Rizieq.

"Ini orang bermasalah dalam Km 50, dalam urusan adu domba anak bangsa, dalam urusan menghina para habaib. Saudara, kenapa diangkat jadi penasihat presiden? Pantes saja presiden bilang pergi sono ke Yaman lantaran Jenderal Baliho ini memang tidak suka Yaman," sambungnya.

(eva/gbr)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News