Duta Besar (Dubes) Federasi Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov menegaskan Rusia tetap siap mencapai kesepakatan tenteram dengan Ukraina, tetapi menilai perdamaian hanya bisa terwujud jika sejumlah kepentingan keamanan Moskow diakomodasi.
Pernyataan itu disampaikan Tolchenov dalam bertemu pers di kediamannya di Jakarta, Rabu (24/6).
Menurut Tolchenov, Rusia menginginkan Ukraina tidak menjadi personil NATO, mempertahankan status non-blok dan non-nuklir, serta menjamin hak-hak golongan minoritas, termasuk penduduk berkata Rusia.
Ia juga menegaskan rumor wilayah kudu menjadi bagian dari perundingan damai, termasuk lima wilayah di Ukraina selatan dan timur nan saat ini diduduki alias diklaim sebagai bagian dari Federasi Rusia.
"Tidak ada lagi pertanyaan mengenai Krimea, Kherson, Donetsk, Luhansk, dan Zaporizhzhia," kata Tolchenov.
Menurut dia, Rusia tidak menginginkan kesepakatan nan hanya memberi jarak sementara dalam konflik.
"Kami mau mencapai kesepakatan nan komprehensif, berjangka panjang, dan mempertimbangkan seluruh kepentingan keamanan Rusia," ujarnya.
Tuding Boris Johnson Gagalkan Perdamaian
Tolchenov juga menyatakan Rusia dan Ukraina sebenarnya nyaris mencapai kesepakatan tenteram pada awal perang pada 2022. Menurutnya, kedua pihak telah menyusun rancangan perjanjian nan apalagi sudah diparaf oleh tim perunding masing-masing.
Namun, Tolchenov menuding mantan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menjadi salah satu pihak nan menggagalkan proses tersebut.
"Karena posisi Barat, khususnya Perdana Menteri Inggris saat itu Boris Johnson, nan membujuk Ukraina untuk melanjutkan perang, perihal itu (kesepakatan damai) tidak terjadi," ungkapnya.
Ia menambahkan rancangan perjanjian nan disusun pada 2022 itu tetap bisa menjadi dasar untuk melanjutkan negosiasi tenteram antara Rusia dan Ukraina.
Putin Siap Dialog dengan Zelensky
Tolchenov mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin tetap membuka pintu perbincangan langsung dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
"Presiden Putin siap berjumpa Zelensky jika Zelensky datang ke Moskow. Tidak ada masalah, kami siap berbincang dalam corak apa pun," katanya.
Menurut Tolchenov, halangan terbesar untuk mencapai perdamaian justru datang dari pihak Ukraina dan negara-negara Eropa nan dinilai terus mendorong kelanjutan perang.
“Jika satu pihak mau berbaikan sementara pihak lain tidak, gimana kesepakatan itu bisa tercapai?” ujarnya.
Ia menegaskan Rusia tetap siap melanjutkan proses negosiasi kapan saja.
“Kami siap. Jangan bertanya kepada kami, silakan tanyakan kepada pihak lain,” kata Tolchenov.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·