Dua Wajah Hasil Tes PISA 2025

Sedang Trending 57 menit yang lalu
Dua Wajah Hasil Tes PISA 2025 (ANTARA FOTO/Fanny Octavianus)

KITA patut menyambut ceria pengumuman hasil PISA 2025 meski memperlihatkan dua wajah nan berbeda. Wajah pertama mengandung optimisme ketika skor nilai membaca 365, meningkat 6 poin dari hasil PISA 2022 dan skor sains 389, meningkat 6 poin juga. Namun, wajah kedua mengandung pesimisme ketika skor matematika 364, turun 2 poin. PISA 2025 diikuti oleh 91 negara, lebih banyak daripada PISA 2022 nan diikuti oleh 80 negara.

Hal nan membikin kita dapat terhibur dari hasil PISA ini adalah secara dunia antara tahun 2022 dan 2025, rata-rata skor di 35 negara peserta Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembengunan Ekonomi (OECD) turun 9 poin untuk skor matematika (465), turun 14 poin skor membaca (643), dan turun 3 poin untuk sain (484). Meski jika kita bandingkan dengan negara nan mencapai skor tertinggi, skor kita tetap jauh lebih rendah, tapi skor membaca dan sain kita naik. Kita apresiasi meningkatnya skor membaca dan sain. Sebaliknya kita perlu mencermati penurunan skor matematika. Tampaknya, pelajaran matematika tetap tetap menjadi momok bagi pelajar Indonesia.

Berdasarkan hasil PISA 2025, kita dapat memandang adanya kemajuan pembelajaran di sekolah formal. Namun, jika kita membaca ulang Undang-Undang No 59 Tahun 2024 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RJPN) Tahun 2025–2045 nan memandang parameter keberhasilan transformasi sosial dalam RPJP Nasional Tahun 2025-2045 dari hasil pembelajaran rata-rata nilai PISA, capaian PISA 2025 meleset dari info baseline untuk menetapkan capaian 2045. Data baseline UU RJPN ini terlalu optimistis, ialah menetapkan skor PISA membaca 396 (2025) melompat menjadi 485, matematika dari 404 (2025) menjadi 490, dan sain dari 416 (2025) menjadi 487 pada 2045. Penetapan skor PISA 2025 nan terlalu tinggi itu seperti sengaja dijadikan jebakan, mengingat penentuan baseline itu dilakukan oleh rezim terdahulu saat skor PISA justru turun.

CERITA DI BALIK SKOR

Terlepas dari skor nan kita capai, menarik untuk disimak adalah komentar dari Andreas Schleicher, Director for Education and Skills at The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Menurut Andreas, Indonesia telah sukses mencapai sesuatu nan tetap menjadi tantangan bagi banyak negara, ialah meningkatkan akses terhadap pendidikan tanpa mengorbankan kualitas. Selama dua dasawarsa terakhir, tingkat partisipasi pendidikan anak usia 15 tahun meningkat nyaris dua kali lipat. Meskipun demikian, capaian anak usia 15 tahun di Indonesia dalam tes PISA OECD tetap relatif stabil.

Beberapa temuan nan paling menggembirakan dari PISA tahun ini justru terlihat ketika info ditelaah lebih mendalam. Anak usia 15 tahun di Indonesia menunjukkan tingkat keingintahuan nan termasuk salah satu nan tertinggi, suatu modal krusial dalam perekonomian masa sekarang nan semakin digerakkan oleh inovasi. Mereka juga telah mengembangkan keahlian untuk belajar secara mandiri. Hal ini krusial lantaran orang orang nan paling sukses di masa depan bukan semata-mata mereka nan mempunyai pengetahuan paling banyak, melainkan nan bisa terus belajar sepanjang kehidupan (Sumber: Taklimat Kemendikdasmen, 8/9/2026).

Munculnya rasa mau tahu nan kuat dan keahlian untuk mengembangkan belajar secara berdikari pada anak-anak di atas 15 tahun di Indonesia adalah hasil dari proses pembelajaran nan baik dan sekaligus menjadi modal untuk mencapai kemajuan nan lebih luas. Semoga keduanya itu muncul sebagai buah dari penerapan pembelajaran mendalam nan diusung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti. Pembelajaran mendalam nan dipahami dan diterapkan secara betul bakal mendorong murid-murid untuk bertanya lebih banyak lagi sebagai bentuk rasa mau tahunya nan tinggi.

Hal lain nan juga patut diperhatikan menurut Andreas adalah bahwa siswa Indonesia menunjukkan capaian nan lebih baik dalam pemecahan masalah komputasional daripada dalam mata pelajaran nan lebih konvensional. Selain itu, jika dibandingkan dengan siswa di banyak negara lain di dunia, siswa Indonesia lebih sering terlibat dalam pembelajaran mengenai langkah menilai kredibilitas konten nan dihasilkan oleh kepintaran artifisial (AI). Di tengah perkembangan bumi nan semakin dipengaruhi oleh AI, keterampilan-keterampilan tersebut bakal menjadi kompetensi krusial bagi beragam pekerjaan unggulan di masa depan.

Apresiasi nan disampaikan oleh Andreas Schleicher itu adalah penilaian kualitatif nan jauh lebih berarti daripada skor secara kuantitatif. Penilaian secara kualitatif itu mencerminkan adanya kemajuan nan banget signifikan dalam proses pembelajaran kita. Boleh jadi, ini berkah kebijakan Mendikdasmen Abdul Mu’ti menerapkan pembelajaran koding dan kepintaran artifisial pada pendidikan dasar dan menengah.

SEBAGAI RUJUKAN SAJA

Sebetulnya jika memandang jumlah sampel nan terlalu mini (5.000 murid) untuk negara Indonesia nan banget luas dan beragam kondisi geografis, ekonomi, sosial, dan budaya, hasil PISA itu belum tentu dapat mencerminkan realitas lapangan nan sesungguhnya. Di wilayah Jawa nan mempunyai banyak sekolah unggul, boleh jadi realitas lapangannya jauh lebih baik daripada hasil skor PISA. Sebaliknya di daerah-daerah nan berada jauh dari perkotaan, terlebih wilayah 3T, bisa jadi realitas lapangannya lebih rendah daripada skor PISA.

Artinya, secara metodologis kita sah-sah saja menjadikan hasil tes PISA itu sebagai rujukan untuk memandang kualitas pendidikan nasional, tapi sebagai rujukan saja, bukan sebagai pedoman penuh untuk pengembangan pendidikan nasional. Kita tetap perlu mengembangkan model pembelajaran sendiri sesuai dengan karakter negeri ini nan banget beragam. Target perbaikan pencapaian skor PISA tetap kudu dilakukan, tapi jauh lebih krusial mengembangkan model pembelajaran sendiri sesuai dengan karakter negeri ini nan beragam agar dapat memberikan pendidikan nan bermakna.

Kebijakan Kemendikdasmen nan telah menetapkan empat pilar tindak lanjut PISA, ialah meningkatkan kompetensi guru, pembelajaran, memperbaiki sistem asesmen, dan meningkatkan peran keluarga, kiranya sudah tepat. Peningkatan kompetensi pembimbing menjadi prioritas lantaran kurikulum sebagus apa pun, jika di tangan pembimbing nan tidak mempunyai kompetensi, juga tidak menarik bagi murid. Rencana pengangkatan guru-guru P3K menjadi PNS dan P3K paruh waktu menjadi P3K penuh dapat menjadi salah satu terobosan untuk meningkatkan kompetensi guru.

Di sisi pembelajaran, penerapan pembelajaran mendalam nan diikuti dengan penyiapan pembimbing nan terlatih, penyediaan sumber belajar nan semakin berkualitas, dan digitalisasi pembelajaran nan makin meluas bakal memperbaiki sistem pembelajaran secara menyeluruh. Di tingkat sistem evaluasi, kerangka asesmen skala nasional (AN dan TKA) nan diharmoniskan dengan kompetensi berakal pada kerangka PISA, serta penguatan pemanfaatan platform Rumah Pendidikan dan sumber inspirasi asesmen bagi pembimbing dan siswa bakal dapat mengantarkan siswa menghadapi tes PISA secara lebih baik.

Dan, ketiganya itu bakal semakin afdal andaikan didukung oleh peningkatan peran family dalam pendidikan anak. Ini krusial mengingat 50% karakter anak dibentuk oleh keluarga. Membangun aktivitas 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH) juga bakal terwujud jika ada peran family nan kuat. Sinergi nan baik antara pendidikan family dan sekolah itulah nan bakal bisa meningkatkan kualitas pendidikan naik secara umum maupun saat menghadapi tes PISA. Relasi nan selaras antara family dan sekolah bakal membikin anak-anak siap menghadapi tes PISA dan sekaligus peningkatan kualitas pendidikan secara generik, tidak sekadar mengejar skor PISA.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia