Drone China Buat AS Kalah Telak di Medan Perang

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) kembali berhadapan dengan China lewat teknologi militer. Beijing disebut sukses mengalahkan AS dalam kekuasaan drone.

Jauh sebelumnya, drone nan ditemukan di Ukraina mengungkap komponen dari China mulai dari baterai, motor dan chip. Kemungkinan China juga ikut dalam pertarungan Iran melawan Israel dan AS dalam perang nan pecah beberapa waktu lalu.

Hingga sekarang memang belum diketahui seberapa besar support China untuk pesawat nirawak nan digunakan Iran. Namun analis pertahanan dan master industri mengatakan kendalinya kemungkinan sama dengan nan dilakukan pada perang Rusia dan Ukraina.

"China sudah memenangkan Perang Dunia III lantaran semua berada di tangannya. Tidak seorang pun bisa mengubah itu dalam waktu dekat, apalagi jangka panjang," jelas ahli drone Bulava dengan nama samaran Udav, dikutip dari Wall Street Journal, Minggu (3/5/2026).

Tapi, AS dipastikan tak menyerah begitu saja. Washington menyiapkan langkah untuk mematahkan kekuasaan China dalam industri drone.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth telah menyiapkan program Dominasi Drone berbobot US$1,1 miliar. Tujuan proyek adalah meningkatkan produksi drone dalam negeri dan menurunkan biaya dengan perjanjian membeli lebih banyak dari pemasok AS.

Meski begitu, tak mudah mengalahkan China. Wall Street Journal mencatat China unggul dalam skala produksi dengan nilai murah.

Berbeda dengan AS. Qudcopter berbobot lebih dari US$15 ribu alias tiga kali lipat nilai drone nan setaran buatan China.

Selain itu, AS perlu menemukan solusi untuk mematahkan kekuasaan China pada baterai dan motor. Pemerintahan Donald Trump mencoba melakukannya.

AS diketahui memberikan investasi miliaran dolar kepada perusahaan lokal untuk memproduksi mineral, nan krusial bagi pembuatan motor dan baterai. Di sisi lain, sejumlah mahir mengingatkan membangun prasarana kompleks dengan produksi massal butuh waktu hingga satu dasawarsa alias lebih.

Masalah lainnya tak banyak permintaan drone AS. Klien perusahaan setempat hanya berasal dari militer, sebaliknya DJI nan merupakan raksasa teknologi China bekerja untuk produsen konten, pemasok real estat, pengawas pabrik hingga departemen kepolisidan dan pemadam kebakaran AS.

Pentagon berupaya untuk merangsang pertumbuhan rantai pasok dengan program Drone Dominance. Yakni menjanjikan membeli 340 ribu drone FPV.

Segala upaya nan dilakukan disebut mantan mahir rantai pasokan di Unit Inovasi Pertahanan Pentagon, Trent Emeneker sudah bergerak ke arah nan benar. Namun dia mengakui cukup lambat.

"Ini susah lantaran Anda kudu menciptakan kembali industri nan sudah ada, dengan kualitas tinggi dan biaya rendah," ucapnya.

(fsd/fsd)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News