Jalan ambles(Antara)
ANGGOTA Komisi D DPRD DKI Jakarta, Bun Joi Phiau, menyoroti kejadian jalan ambles nan terjadi di area Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Berdasarkan kebenaran di lapangan, peristiwa tersebut dipicu oleh keroposnya saluran air (gorong-gorong) existing berdiameter sekitar tiga meter nan berada tepat di bawah badan jalan, sehingga runtuh lantaran tidak bisa menahan beban kendaraan di atasnya.
Bun Joi Phiau menjelaskan bahwa saluran air tersebut menggunakan bangunan Armco, ialah gorong-gorong berbahan baja bergelombang nan sudah terpasang sejak puluhan tahun lampau dan sekarang mengalami penurunan kualitas secara drastis.
Meski mendukung langkah taktis Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta nan langsung mengganti bangunan tersebut menggunakan box culvert, dia menegaskan pemerintah wilayah tidak boleh hanya bersikap reaktif.
"Penggantian armco dengan box culvert nan dilakukan di Lenteng Agung adalah langkah nan betul secara teknis, namun tidak cukup jika hanya dilakukan secara reaktif setelah kejadian. Box culvert memang mempunyai struktur nan jauh lebih kokoh dan tahan lama. Saya mendukung langkah tersebut, namun jangan tunggu ambles dulu baru bertindak," ujar Bun Joi Phiau ketika dihubungi, Rabu (3/6/2026).
Bun Joi Phiau mengapresiasi langkah Dinas SDA DKI Jakarta nan saat ini sudah mulai memetakan lokasi-lokasi saluran air nan tetap menggunakan material armco tua di seluruh wilayah ibu kota. Namun, dia mengingatkan agar info tersebut dieksekusi secara serius dan tidak berhujung menjadi arsip di atas meja saja.
Ia mendorong agar pemetaan ini kudu dilengkapi dengan asesmen kondisi bentuk nan mendalam serta skala prioritas penanganan. Indikator prioritas tersebut wajib merujuk pada tingkat kerusakan saluran dan kepadatan lampau lintas di atasnya. "Jangan sampai peta itu hanya menjadi arsip tanpa tindak lanjut anggaran nan jelas," tegasnya.
Lebih lanjut, Bun Joi Phiau menyoroti hambatan klasik nan dihadapi petugas di lapangan, di mana pengecekan struktur gorong-gorong sering tersendat oleh debit dan aliran air nan dalam. Untuk mengatasi masalah tersebut, dia meminta Pemprov DKI mulai mengangkat kemajuan teknologi modern untuk sistem pemeliharaan.
“Ini kudu diatasi dengan teknologi, misalnya CCTV inspection drone alias pipe crawling robot agar kondisi saluran bawah tanah dapat dipantau secara berkala sebelum terjadi kerusakan fatal,” urainya.
Ia meminta titik-titik krusial nan berada di bawah jalan arteri utama alias jalur kereta api menjadi prioritas utama penanganan darurat tanpa kudu mengantre dalam program reguler.
"Mengganti armco dengan box culvert adalah langkah nan tepat, tapi itu baru separuh jawaban. nan lebih krusial adalah membangun sistem pemeliharaan prasarana bawah tanah nan proaktif, bukan reaktif. Kami di DPRD bakal terus mengawal ini mulai dari pembahasan anggaran di APBD hingga pengawasan realisasi di lapangan," pungkas Bun Joi Phiau. (Faj/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·