Wakil Ketua DPR Saan Mustopa mengingatkan kepada para wartawan untuk mengutamakan aspek keselamatan saat melakukan peliputan di wilayah terdampak bencana. Menurutnya, wartawan perlu mempertimbangkan akibat nan mungkin muncul sebelum turun ke letak liputan.
Hal itu disampaikan Saan menyusul lenyap kontaknya lima wartawan nan tengah meliput erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
“Ya krusial ya untuk mentaati beragam akibat kelak ketika melakukan peliputan, khususnya di daerah-daerah nan memang terkena bencana. Apalagi daerah-daerah nan terkena bencananya itu menimbulkan akibat bagi tidak hanya masyarakat, tapi juga bagi para peliput,” jelas Saan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (9/9).
Saan mengatakan, kebutuhan untuk mendapatkan info terkini mengenai kondisi di lapangan tetap penting. Namun, perihal tersebut kudu diimbangi dengan persiapan dan perhatian terhadap keselamatan para peliput.
“Yang untuk memberikan info mengenai perkembangan situasi keadaan di lapangan, itu nan lebih terupdate lagi, krusial untuk memperhatikan faktor-faktor keselamatan,” ungkapnya.
Dia mengingatkan agar wartawan tidak memaksakan diri melakukan peliputan di wilayah nan mempunyai akibat tinggi tanpa persiapan keselamatan nan memadai.
“Jadi jangan sampai misalnya melakukan peliputan ke wilayah nan sangat berisiko tanpa mempersiapkan mengenai dengan soal aspek keselamatan. Jadi perihal itu krusial bagi semua pihak ya, termasuk para jurnalis,” tuturnya.
Saan menilai keselamatan perlu menjadi perhatian seluruh pihak, termasuk wartawan nan bekerja mendapatkan info di wilayah bencana. Menurutnya, tujuan peliputan untuk menyampaikan info kepada publik jangan sampai justru membikin peliput berada dalam bahaya.
"Ya, itu krusial lah. Jangan sampai dia nyari buletin tapi dia menjadi objek berita, kan gitu. Ini krusial juga menurut saya,” tuturnya.
Di sisi lain, DPR mendorong seluruh pihak mengenai untuk terus melakukan pencarian terhadap lima wartawan nan hingga sekarang belum diketahui keberadaannya. Saan meminta pencarian dilakukan secara serius dan maksimal.
“Yang kedua, tentu DPR bakal mendorong kepada seluruh pihak, terutama pihak-pihak mengenai dalam perihal ini Basarnas maupun nan lain, untuk secara sungguh-sungguh dan terus-menerus untuk mencari keberadaan kelima wartawan tersebut. Karena krusial kita untuk tahu tentang kepastian keberadaan mereka itu, kan gitu,” katanya.
Saan mengatakan, kepastian mengenai keberadaan kelima wartawan tersebut krusial bukan hanya bagi mereka nan lenyap kontak, tetapi juga bagi family nan menunggu kabar.
“Terutama kita mau bahwa mereka segera untuk bisa ditemukan keberadaannya ada di mana, lantaran ini menyangkut bukan hanya nan bersangkutan, tapi juga family dan juga kita semua,” ucap Saan.
“Jadi sekali lagi, DPR terus bakal berupaya mendorong seluruh pihak mengenai untuk secara sungguh-sungguh dan maksimal untuk mencari keberadaan mereka,” pungkas dia.
Sebelumnya, lima wartawan dilaporkan lenyap kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Rombongan lenyap kontak sejak Senin (7/9) saat berlayar menggunakan kapal untuk memotret gunung tersebut.
Adapun kelima wartawan itu, ialah Muhammad Bagus Khoirunas dari Antara, Arie Basuki dari Merdeka, Yudis dari iNews, Daus dari Anadolu, dan Donal nan merupakan wartawan freelance. Mereka bertolak dari Dermaga Marina, Lippo Carita, Desa Sukajadi, Carita, Kabupaten Pandeglang, sekitar pukul 14.00 WIB.
Kades Sukajadi Sandi Wyasa membenarkan lenyap kontaknya speedboat nan mengangkut kelima jurnalis. Selain wartawan, kapal tersebut juga membawa satu tour guide dan dua kru kapal.
Sandi bercerita, kontak terakhir nan dilakukan tour guide rombongan tersebut. Ia bilang tour guide berjulukan Heri Bonsay itu sempat menghubungi keluarga.
“Itu si guide-nya sempat ngirim foto ke istrinya (lagi di Krakatau) sekitar jam 18.14 WIB, dan bilang aman. Tapi setelah itu enggak ada berita lagi,” ucap Sandi.
Menurut Sandi, harusnya rombongan tersebut pulang pada Senin (7/9) malam.
“Jadi ada 5 orang ahli foto itu mau sewa boat, dan guide-nya itu Heri Bonsay. Dan berangkat lah hari Senin jam 2-an, dan itu rencananya tektok,” ujarnya.
“Kalau jam 2 siang berangkat itu nyampe Krakatau itu jam 4 sore, dan harusnya perkiraan jam 8 malam itu sudah pulang. Kondisi sekarang memang lagi angin selatan, lagi kencang angin,” imbuh Sandi.
44 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·