Polytron berbareng platform riset Populix meluncurkan "UMKM Handbook: Panduan UMKM Naik Level" dalam training nan diikuti lebih dari 100 pelaku UMKM.(Dok.Istimewa)
POLYTRON berbareng platform riset Populix meluncurkan "UMKM Handbook: Panduan UMKM Naik Level" dalam training nan diikuti lebih dari 100 pelaku upaya mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Bandung, Jawa Barat, Kamis (18/6). Buku pedoman tersebut disusun berasas hasil riset lapangan nan memotret kondisi nyata UMKM kuliner sekaligus mematahkan sejumlah mitos nan selama ini dianggap menghalang pertumbuhan usaha.
Peluncuran handbook menjadi bagian dari komitmen kedua perusahaan dalam memperkuat kapabilitas UMKM melalui pengambilan keputusan upaya nan berbasis info dan penerapan teknologi nan tepat guna.
Hasil riset menunjukkan bahwa 80% pelaku UMKM merupakan perintis usaha. Sebanyak 57% memilih berwirausaha lantaran mau mandiri, sedangkan 46% memandang kesempatan pasar nan tetap terbuka lebar. Dominasi pelaku upaya juga berasal dari generasi muda, ialah Gen Z dan Milenial nan mencapai 65%.
Dari sisi permodalan, kebanyakan pelaku upaya tetap mengandalkan tabungan pribadi sebesar 63% dan untung upaya nan diputar kembali sebanyak 46%. Kondisi tersebut mencerminkan tingginya kemandirian sekaligus kerentanan finansial pada tahap awal pengembangan bisnis.
Riset juga menemukan tetap banyak pelaku UMKM nan tersendat oleh persepsi keliru. Salah satunya adalah dugaan bahwa membuka banyak bagian menjadi ukuran keberhasilan usaha.
Faktanya, sebanyak 25% pelaku upaya justru mengalami kesulitan lantaran belum mempunyai sistem dan standar operasional prosedur (SOP) nan baik. Selain itu, 48% UMKM tetap melakukan pencatatan transaksi secara manual sehingga pengambilan keputusan upaya lebih banyak didasarkan pada intuisi dibandingkan data.
Mitos lain nan dipatahkan adalah sulitnya memperoleh pinjaman modal. Meski 32% responden menganggap modal sebagai tantangan utama dan 50% mengaku kesulitan mengakses angsuran perbankan, persoalan utamanya adalah rendahnya literasi keuangan. Sebanyak 26% pelaku upaya belum memahami proses pengajuan pinjaman, sementara 19% belum mempunyai akses ke lembaga keuangan.
PENAIKAN HARGA PRODUK
Handbook tersebut juga menyoroti dugaan bahwa meningkatkan nilai produk merupakan solusi meningkatkan keuntungan. Data menunjukkan 20% konsumen sangat sensitif terhadap harga, sedangkan tantangan terbesar justru berasal dari pengelolaan sumber daya manusia.
Sebanyak 67% UMKM mikro hanya mempunyai satu hingga dua tenaga kerja nan kudu menangani beragam pekerjaan sekaligus. Kondisi ini menyebabkan 55% pelaku upaya mengalami hambatan kecepatan pelayanan saat jam sibuk sehingga diperlukan penerapan SOP dan pemanfaatan peralatan untuk meningkatkan efisiensi.
Selain itu, handbook mengungkap bahwa omzet besar tidak selalu menjamin keamanan upaya lantaran adanya biaya tersembunyi akibat kelalaian operasional. Kerusakan peralatan sebelum masa pakainya berhujung dapat memicu kerugian dobel berupa biaya perbaikan, rusaknya bahan baku, hingga terhentinya operasional usaha.
Temuan lainnya menunjukkan 60% UMKM belum menggunakan perangkat elektronik pendukung usaha. Padahal, 40% pelaku upaya nan telah memanfaatkannya merasakan peningkatan kecepatan pelayanan sebesar 68% dan efisiensi penggunaan bahan baku hingga 50%.
BANGUN SISTEM OPERASIONAL
Marketing Center of Excellence Smart MSME and Halal Ecosystem Telkom University, Yati Rohayati, mengatakan pelaku UMKM perlu membangun sistem operasional nan kuat untuk mendukung pemasaran digital nan semakin berkembang.
"UMKM kuliner kudu mulai merancang SOP dan mendigitalisasi alur kerja dari dapur hingga ke meja konsumen agar upaya melangkah efisien, minim kekeliruan dan mudah dipantau," ujar Yati.
Ia juga menekankan pentingnya strategi omnichannel nan mengintegrasikan beragam saluran penjualan, mulai dari toko fisik, WhatsApp, Instagram hingga platform jasa pesan antar berbasis info pengguna untuk meningkatkan pembelian berulang.
Pengalaman tersebut diperkuat oleh Owner Terve Chocolate dan Let's Go Gelato, Aprilia Melisa, nan membagikan praktik pengembangan upaya melalui integrasi toko bentuk dan kanal digital.
Menurut Aprilia, sinkronisasi stok dan pelayanan di seluruh kanal penjualan menjadi aspek krusial dalam menjaga kepuasan pengguna sekaligus memperluas pasar.
"Kunci keberlanjutan upaya kuliner terletak pada efisiensi biaya operasional melalui pemanfaatan teknologi nan tepat guna, mulai dari sistem kasir terintegrasi hingga manajemen hubungan pengguna untuk meningkatkan loyalitas dan pembelian berulang," katanya.
PROGRAM UMKM NAIK LEVEL
Sebagai tindak lanjut dari hasil riset tersebut, Polytron memperkenalkan program "UMKM Naik Level Bareng Polytron" nan menyediakan ekosistem pendukung bagi pelaku upaya melalui penyediaan perangkat upaya nan dirancang untuk meningkatkan efisiensi operasional.
Program tersebut menawarkan beragam produk seperti chest freezer, showcase, dispenser, oven, hingga rice cooker dengan nilai unik melalui skema POLYPRENEUR Exclusive Deal. Melalui inisiatif ini, Polytron berambisi pelaku UMKM dapat mengambil keputusan upaya nan lebih terukur, berinvestasi pada aset nan tepat, serta membangun upaya nan tumbuh secara kondusif dan berkelanjutan. (E-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·