Jakarta, CNBC Indonesia - Pertamina terus memperkuat komitmennya dalam mendukung ketahanan serta transisi energi. Hal ini dijalankan melalui dual growth strategy.
Pertama, Pertamina berupaya memaksimalkan legacy upaya (maximizing legacy business) ialah memaksimalkan potensi nilai di aspek hulu, membangun elastisitas di kilang, melakukan transformasi upaya retail fuel, serta memperluas prasarana dan layanan. Kedua, membangun upaya rendah karbon (building low carbon business).
Hal tersebut diungkap Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, pada sesi obrolan panel bertema "Decarbonization: Global Technology Trends and Best Practices". Sesi ini merupakan bagian dari rangkaian aktivitas "World Bank Energy Knowledge and Learning Forum East Asia and Pacific", forum regional mengenai transisi daya berkepanjangan di Asia Timur dan Pasifik, nan diinisiasi oleh World Bank Group.
Dalam paparannya berjudul "Accelerating Energy Transition Through Industrial Decarbonization and Low Carbon Business", Agung menjelaskan gimana transisi daya di jalankan dalam upaya mencapai sasaran Net Zero Emission (NZE) di tahun 2060.
Agung mengatakan, Pertamina saat ini mempunyai visi, menjaga keamanan daya nasional dan mendorong transisi daya melalui program dekarbonisasi terintegrasi dan membangun upaya rendah karbon. Hal ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Dalam konteks Pertamina, jelas Agung, transisi daya nan dijalankan di Indonesia kudu seimbang dengan tantangan daya trilema ialah Energy security, affordability, dan sustainability.
"Di situ saya percaya Pertamina menjadi contoh, lantaran saat bumi ini menghadapi banyak ketidakpastian secara geopolitik, dengan adanya bentrok di beragam bagian dunia, kemudian juga ketidakpastian mengenai gimana penanganan climate change," ujar Agung dikutip Jumat (5/6/2026).
Inisiatif dan langkah dekarbonisasi nan dilakukan Pertamina menjadi pembelajaran bagi para peserta dari beragam negara.
"Pertamina mendorong pemanfaatan geothermal (panas bumi) sebagai daya bersih serta pengurangan flaring. Pertamina juga mengembangkan daya baru dan terbarukan melalui upaya rendah karbon, seperti biodiesel, bioethanol, kemudian juga rencana pengembangan CCS/CCUS (Carbon Capture and Storage/Carbon Capture Utilization and Storage)," urai Agung.
Dalam aspek dekarbonisasi, dilakukan pengantian peralatan berbahan bakar fosil dengan peralatan berkekuatan listrik. Program ini menghasilkan efisiensi daya sebesar 1,52 MMtCO2e (Million Metric Tons Of Carbon Dioxide), menyumbang 66,86% dari total upaya pengurangan emisi Pertamina.
Dalam aspek upaya rendah karbon, dilakukan melalui penemuan bahan bakar nabati (biofuel). Diprediksi bakal ada potensi penjualan biofuel sebesar 60 juta KL pada 2029, dengan proyek utama Bio Refinery Cilacap.
Pertamina berupaya memaksimalkan potensi listrik dengan kapabilitas 1,4 GW (Gigawatt) dari panas bumi melalui proyek di Hululais dan Lahendong. Salah satu proyek strategis nan tengah dikembangkan adalah Proyek Geothermal Lahendong Unit 7 dan 8 nan telah masuk dalam Green Book Kementerian PPN/Bappenas untuk mendukung transisi daya dan pembangunan rendah karbon.
Masuknya proyek ini dalam Green Book membuka kesempatan support pembiayaan dari lembaga finansial internasional, termasuk World Bank, sehingga dapat mempercepat pengembangan kapabilitas panas bumi nasional sekaligus memperkuat bauran daya bersih Indonesia.
Pertamina juga berkomitmen mengurangi emisi metana (CH4) sebesar 40% dari emisi dasar pada 2021.
Di sektor hulu terdapat program zero flaring, nan didukung dengan kampanye penemuan dan perbaikan kebocoran, melalui program Leak Detection and Repair Campaign alias LDAR. Program ini sukses mengurangi emisi metana nan tidak terkontrol sebesar 30-39,7 persen.
Keberhasilan ini salah satunya berada di lapangan PEP Donggi Matindok. Upaya ini dapat mengurangi kebocoran sebesar 68,4% pada tahun 2025.
Hal nan sama diterapkan di JOB Pertamina-Medco E&P Tomori dengan mengurangi emisi CH4 sekitar 30% pada tahun 2025. Sementara PT Badak NGL, sukses mengurangi emisi CH4 sebesar 38,7% pada 2025.
(dpu/dpu)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·