Presiden AS Donald Trump menunjuk Bill Pulte sebagai Plt Direktur Intelijen Nasional (DNI). Keputusan ini menuai kritik tajam lantaran Pulte minim latar belakang intelijen.(AFP)
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump menunjuk seorang pejabat urusan perumahan, Bill Pulte, untuk menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Intelijen Nasional (DNI). Jabatan ini merupakan posisi puncak mata-mata negara nan bekerja mengawasi 18 lembaga intelijen pemerintah.
Penunjukan Pulte langsung memicu kontroversi besar di kalangan personil parlemen. Pasalnya, laki-laki nan merupakan bagian dari dinasti pembangunan rumah sekaligus pemodal ekuitas swasta ini diketahui tidak mempunyai latar belakang sama sekali di bagian intelijen.
Pulte saat ini menjabat sebagai Direktur Badan Pembiayaan Perumahan Federal (FHFA). Ia dijadwalkan menggantikan Direktur DNI saat ini, Tulsi Gabbard, nan masa jabatannya berhujung pada 30 Juni.
Melalui unggahan di platform media sosialnya, Selasa (2/6), Trump memberikan pujian kepada Pulte atas kinerjanya mengawasi perusahaan hipotek nan dikendalikan pemerintah, Fannie Mae dan Freddie Mac.
"William mempunyai pengalaman mendalam dalam mengelola masalah paling sensitif di Amerika, keamanan dan kesehatan Pasar, dan lebih dari US$10triliun di Fannie Mae/Freddie Mac, peningkatan substansial dari posisi 12 bulan lalu," tulis Trump.
"Selama periode ini, dia bakal tetap menjabat sebagai Direktur Badan Pembiayaan Perumahan Federal, dan Ketua Fannie Mae/Freddie Mac. Selamat kepada Direktur Pulte!"
Kecaman dari Anggota Parlemen
Keputusan Trump langsung mendapat kecaman keras dari kubu Demokrat. Senator Mark Warner, perwakilan Demokrat papan atas di Komite Intelijen Senat, menilai penunjukan ini menunjukkan apa nan sebenarnya diharapkan presiden dari seorang kepala intelijen negara.
"Alih-alih memilih ahli keamanan nasional nan dihormati dan bisa memberikan penilaian independen, presiden telah memilih seorang pejabat nan menunjukkan tidak hanya kesediaan tetapi juga gairah untuk menggunakan otoritas pemerintah demi melakukan pembalasan politik," kritik Warner.
Sebelum penunjukan ini, Pulte memang dituduh menggunakan perannya di FHFA untuk membidik musuh-musuh politik Trump lewat rujukan pidana atas tuduhan penipuan hipotek. Beberapa tokoh nan menjadi sasarannya antara lain Senator California Adam Schiff, Jaksa Agung Demokrat New York Letitia James, mantan Ketua Federal Reserve Jerome Powell, dan Gubernur Fed Lisa Cook. Namun, tidak ada satu pun dari kasus tersebut nan sukses bersambung ke penuntutan hukum.
Merespons pengumuman tersebut, Adam Schiff menulis di platform X bahwa Pulte telah "mempolitisasi dan memprioritaskan persenjataan pada badan-badan perumahan dan bakal melakukan perihal nan sama di organisasi intelijen."
Respons Dingin Kubu Republik
Tidak hanya Demokrat, politisi dari Partai Republik di Kongres juga menanggapi penunjukan ini dengan waspada. Senator Texas John Cornyn menyatakan keraguannya terhadap kapabilitas Pulte.
"Saya tidak memandang bukti kualifikasinya untuk pekerjaan itu, tetapi saya bersedia mendengarkan," ujar Cornyn.
Sebagai pejabat pelaksana tugas (Plt), Pulte hanya dapat menjabat selama 210 hari sebelum kudu mendapatkan konfirmasi resmi dari Senat. Dengan skema ini, masa kedudukan sementara Pulte bakal berhujung pada akhir Januari 2027. (BBC/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·