Dolar AS Tembus Rp 18.000, Pemerintah Yakin Fundamental Ekonomi RI Kuat

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta - Nilai tukar Dolar Amerika Serikat (USD) menembus Rp 18.000. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi percaya Indonesia mempunyai esensial ekonomi nan kuat.

"Yang pasti bisa kami sampaikan bahwa kita kudu percaya bahwa sesungguhnya esensial ekonomi kita nan tergambar dari pertumbuhan ekonomi. Kemudian dari inflasi nan tetap terjaga Insya Allah sesungguhnya kita mempunyai esensial ekonomi nan cukup kuat," kata Prasetyo di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (4/6/2026) malam.

Prasetyo menegaskan pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berkoordinasi secara intens. Pemerintah, kata dia, dipastikan melakukan sejumlah langkah dalam mengatasi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap USD.

"Kami pemerintah dalam perihal ini Kementerian Keuangan, kemudian Bank Indonesia, kemudian juga Otoritas Jasa Keuangan terus berkoordinasi secara intens untuk terus memonitor dan kemudian melakukan langkah-langkah," katanta.

Diketahui, nilai tukar USD semakin menguat terhadap rupiah. Bahkan sekarang mata duit negeri Paman Sam itu sudah menembus level Rp 18.000.

Dilansir detikFinance, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyampaikan pelemahan nilai tukar Rupiah nan terjadi saat ini tetap dipengaruhi oleh meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah nan kembali memanas. Kondisi ini mendorong nilai minyak tetap tinggi dan meningkatkan akibat inflasi dunia serta arus biaya keluar dari negara emerging.

Dari sisi domestik, menurutnya permintaan Dolar tetap besar digunakan untuk repatriasi dividen dan juga pembayaran utang luar negeri.

"Selain itu kebutuhan domestik tetap cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran Utang Luar Negeri (ULN)," ujar Destry dalam keterangan tertulis, Kamis (4/6).

Destry juga menyampaikan pelemahan nan terjadi pada mata Rupiah ini juga dialami oleh mata duit negara lainnya nan berada di kawasan.

"Secara umum, pelemahan Rupiah juga tetap sejalan dengan regional, secara YTD melemah 7,44%. Cadangan devisa tetap terjaga di level US$ 146,2 miliar pada akhir April 2026," ujar Destry. (fca/dek)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News