Dokter Tegaskan Katarak tak Bisa Sembuh hanya dengan Obat Tetes Mata

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Dokter Tegaskan Katarak tak Bisa Sembuh hanya dengan Obat Tetes Mata Ilustrasi, penggunaan obat tetes mata.(Dok. Magnific)

MASIH banyak persepsi keliru di tengah masyarakat mengenai penanganan gangguan penglihatan katarak. Dokter ahli mata subspesialis katarak dan bedah refraksi, Amir Shidik, menegaskan bahwa katarak tidak dapat dihilangkan hanya dengan penggunaan obat tetes mata.

Menurut Amir, obat tetes mata nan beredar saat ini paling maksimal hanya berfaedah untuk menghalang progresivitas alias perkembangan kekeruhan lensa, namun tidak bisa menyembuhkannya secara total.

“Enggak ada obat tetes nan efektif menghilangkan katarak, paling hanya menghalang progresivitasnya. Operasi adalah satu-satunya jalan,” ujar Amir dalam sebuah obrolan kesehatan di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Faktor Risiko Katarak

Katarak merupakan kondisi terjadinya kekeruhan pada lensa mata nan umumnya terjadi seiring bertambahnya usia. Namun, Amir menjelaskan ada beragam aspek akibat lain nan dapat mempercepat kondisi ini, di antaranya:

  • Paparan sinar ultraviolet (UV) berlebih.
  • Riwayat trauma alias cedera pada mata.
  • Riwayat operasi mata sebelumnya alias peradangan mata (Uveitis).
  • Penggunaan obat-obatan jenis steroid dalam jangka panjang.
  • Penyakit penyerta seperti glukosuria dan obesitas.
  • Gaya hidup tidak sehat seperti merokok dan konsumsi alkohol.

Operasi Modern: Cepat dan Tanpa Jahit

Kabar baiknya, katarak adalah kondisi nan dapat diperbaiki sepenuhnya. Melalui tindakan operasi, lensa mata nan sudah keruh bakal diangkat dan diganti dengan lensa buatan (IOL) sehingga penglihatan pasien dapat kembali jernih.

Dokter lulusan Universitas Indonesia ini juga membandingkan kemajuan teknologi medis saat ini. Jika dulu operasi katarak memerlukan sayatan lebar hingga 15 mm dan banyak jahitan, sekarang teknik kedokteran memungkinkan prosedur nan jauh lebih simpel.

“Operasi sekarang cepat, hanya 10-15 menit. Biusnya hanya ditetes, tidak perlu dijahit, dan mata bisa langsung dibuka,” jelasnya.

Melawan Mitos dan Dampak Psikologis

Selain hambatan medis, Amir menyoroti banyaknya mitos nan menghalang pasien untuk berobat. Salah satu mitos nan paling ekstrem adalah dugaan bahwa bola mata kudu dicopot dan dibersihkan saat operasi. Ia menegaskan perihal tersebut sama sekali tidak benar.

Kekhawatiran lain biasanya mengenai ibadah, di mana pasien takut tidak bisa melakukan sujud alias salat pascaoperasi. Padahal, dengan teknik modern, pasien justru bisa beraktivitas dan beragama dengan lebih nyaman lantaran penglihatan nan membaik.

Terakhir, Amir menekankan pentingnya operasi katarak bagi kualitas hidup sosial pasien. Pasien katarak sering kali terlihat menarik diri alias mempunyai tatapan kosong lantaran keterbatasan penglihatan.

“Setelah operasi, ekspresi mukanya berubah, jadi lebih sering senyum dan berinteraksi lantaran mereka sudah bisa memandang bumi dengan jelas kembali,” tutupnya. (Ant/H-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia