Dokter Jelaskan Alasan Pentingnya Rasa Percaya Ibu dan Anak dalam Proses Toilet Training

Sedang Trending 38 menit yang lalu
Dokter Jelaskan Alasan Pentingnya Rasa Percaya Ibu dan Anak dalam Proses Toilet Training Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi, Andy Darma.(Dok. Antara)

MEMBANGUN rasa saling percaya antara ibu dan anak menjadi salah satu aspek krusial dalam keberhasilan proses toilet training. Hal ini terutama bertindak bagi anak nan mempunyai kebiasaan menahan buang air besar (BAB).

Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi, Andy Darma menjelaskan bahwa proses toilet training merupakan bagian dari tahapan tumbuh kembang anak yang harus diawali dengan kepercayaan anak terhadap perkataan ibunya. Kepercayaan tersebut menjadi modal utama untuk meyakinkan anak bahwa proses BAB tidaklah menyakitkan.

"Diawali dari saling percaya antara ibu dan anak. Jadi anak agar kita bisa meyakinkan ini enggak sakit kok. Dia percaya memang poop (buang air besar) itu enggak sakit lantaran ibunya enggak pernah bohong," ujar Andy saat ditemui di Jakarta, Rabu (9/9).

Siklus Nyeri Akibat Menahan BAB

Andy memaparkan bahwa rasa percaya sangat diperlukan agar anak tidak lagi menahan BAB. Kebiasaan menahan BAB justru bakal memperburuk kondisi lantaran feses bakal menjadi semakin keras akibat air di dalamnya terus diserap oleh usus.

Kondisi ini menciptakan lingkaran setan nan susah diputus. "BAB keras menyebabkan nyeri. Nyeri menyebabkan menahan. Menahan menyebabkan bertambah keras. Jadi berputar saja siklusnya di situ, kelak enggak selesai-selesai," jelasnya.

Mengatasi Trust Issue pada Anak

Untuk memutus siklus tersebut, diperlukan penanganan dari dua sisi. Secara medis, master bakal memberikan obat untuk melunakkan feses. Sementara dari sisi psikologis, tugas ibu adalah memberikan kepercayaan kepada anak agar tidak lagi menahan BAB.

Andy menekankan pentingnya kejujuran orangtua untuk menghindari trust issue pada anak. Ia mencontohkan, sering kali orangtua mendusta dengan mengatakan obat tidak pahit alias suntikan vaksin tidak sakit, padahal anak merasakan sebaliknya. Pengalaman semacam ini dapat membikin anak susah percaya pada pengarahan orangtua saat toilet training.

Ketika feses sudah melunak berkah support medis, ibu kudu tetap konsisten meyakinkan anak bahwa proses tersebut tidak sakit. Setelah anak sukses BAB tanpa rasa sakit, orangtua disarankan memberikan afirmasi positif.

"Membangun rasa percaya menyelesaikan trust issue pada anak," pungkas Andy. Orangtua dapat menanyakan kembali kepada anak apakah proses BAB tadi terasa sakit, guna mengingatkan mereka agar tidak perlu menahannya lagi di kemudian hari. (Ant/H-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia