Bahaya Kurang Aktivitas Fisik: Risiko Obesitas, Penyakit Jantung, hingga Strok

Sedang Trending 42 menit yang lalu
 Risiko Obesitas, Penyakit Jantung, hingga Strok Ilustrasi, seseorang melakukan aktivitas fisik.(Dok. Magnific)

RASA malas, kelelahan, alias suasana hati nan sedang tidak baik kerap membikin seseorang memilih untuk lebih banyak duduk dan mengurangi aktivitas. Namun, kebiasaan kurang bergerak tidak hanya membikin tubuh menjadi kurang aktif. Jika berjalan terus-menerus, kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan akibat beragam masalah kesehatan serius.

Mengenal Sedentary Lifestyle

Kurang bergerak alias sedentary lifestyle merupakan kondisi ketika seseorang menghabiskan banyak waktu untuk duduk alias berebahan dengan sedikit alias tanpa aktivitas fisik. Kebiasaan ini sering terjadi dalam aktivitas sehari-hari, seperti terlalu banyak duduk saat bekerja di depan komputer, menonton televisi, menggunakan perangkat elektronik dalam waktu lama, alias berjalan dalam posisi duduk.

Gaya hidup tidak aktif ini secara perlahan dapat merusak sistem metabolisme dan memicu beragam akibat penyakit kronis sebagai berikut:

1. Obesitas

Kurang bergerak menyebabkan tubuh membakar lebih sedikit kalori. Jika asupan kalori dari makanan dan minuman lebih besar daripada daya nan dikeluarkan melalui aktivitas fisik, kelebihan kalori tersebut bakal disimpan oleh tubuh dalam corak lemak. Kondisi ini memicu pertambahan berat badan nan signifikan dan meningkatkan akibat obesitas.

2. Penyakit Jantung

Kurangnya aktivitas bentuk berangkaian erat dengan meningkatnya akibat penyakit jantung. Salah satu akibat utamanya adalah penumpukan plak pada arteri nan memasok darah ke otot jantung. Penumpukan plak ini mempersempit aliran darah dan dapat memicu beragam masalah jantung, di antaranya:

  • Angina: Nyeri dada akibat berkurangnya aliran darah ke jantung.
  • Serangan Jantung: Kerusakan otot jantung akibat kekurangan oksigen secara mendadak.
  • Gagal Jantung: Kondisi jantung tidak bisa memompa darah secara optimal.
  • Aritmia: Gangguan pada irama debar jantung.

3. Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi)

Aktivitas bentuk secara teratur sangat berkedudukan dalam membantu menjaga elastisitas pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah. Sebaliknya, style hidup pasif menjadi aspek akibat utama meningkatnya tekanan darah tinggi. Tekanan darah nan tidak terkontrol dapat membebani kerja jantung dan merusak pembuluh darah di seluruh tubuh.

4. Strok

Risiko strok meningkat tajam pada perseorangan nan jarang bergerak. Strok terjadi ketika aliran darah ke otak terhenti, sehingga sel-sel otak tidak mendapatkan oksigen dan nutrisi. Kerusakan sel otak dapat terjadi dalam waktu singkat dan berpotensi menyebabkan kecacatan jangka panjang, kerusakan otak permanen, hingga kematian.

Kebiasaan kurang bergerak tidak hanya memengaruhi kebugaran sesaat, tetapi berakibat jelek pada kesehatan jangka panjang. Mulailah menyisipkan aktivitas bentuk ringan di sela rutinitas untuk menjaga tubuh tetap sehat dan terhindar dari akibat penyakit mematikan.

(MedlinePlus, Halodoc/H-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia