Ilustrasi(Magnific.com)
Menurunkan berat badan sering kali menjadi tujuan utama bagi banyak orang nan mau menjalani hidup lebih sehat. Namun, para master kesehatan dan master mengingatkan bahwa konsentrasi utama semestinya bukan hanya pada penurunan nomor di timbangan, melainkan pada komposisi tubuh, terutama menjaga massa otot.
Kehilangan massa otot saat menjalani program diet nan ekstrem dapat berakibat jelek pada kesehatan jangka panjang. Dokter menekankan bahwa otot adalah jaringan aktif secara metabolik nan membantu tubuh membakar kalori apalagi saat sedang beristirahat.
Mengapa Massa Otot Harus Dipertahankan?
Saat seseorang mengurangi asupan kalori secara drastis tanpa memperhatikan asupan nutrisi dan aktivitas fisik, tubuh condong mengambil daya dari jaringan otot. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan laju metabolisme basal (BMR).
Penting Diketahui: Penurunan massa otot nan signifikan dapat menyebabkan tubuh lebih mudah kembali mengalami kenaikan berat badan (efek yoyo) lantaran keahlian membakar kalori nan menurun.
Selain kegunaan metabolisme, massa otot nan terjaga sangat krusial untuk mendukung mobilitas, menjaga keseimbangan tubuh, dan mencegah akibat cedera seiring bertambahnya usia. Kehilangan otot nan berlebihan, alias nan dikenal secara medis sebagai sarkopenia, dapat menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan.
Tips Menjaga Massa Otot Saat Diet
Berdasarkan rekomendasi medis, berikut adalah beberapa langkah strategis untuk memastikan penurunan berat badan berasal dari lemak, bukan otot:
- Cukupi Asupan Protein: Protein adalah blok gedung utama otot. Pastikan setiap sesi makan mengandung sumber protein berbobot seperti dada ayam, ikan, telur, tempe, alias kacang-kacangan.
- Latihan Beban (Resistance Training): Melakukan olahraga beban minimal dua hingga tiga kali seminggu memberikan sinyal kepada tubuh untuk mempertahankan jaringan otot meskipun dalam kondisi defisit kalori.
- Hindari Defisit Kalori Ekstrem: Penurunan berat badan nan sehat berkisar antara 0,5 hingga 1 kilogram per minggu. Defisit nan terlalu tajam bakal memaksa tubuh memecah otot untuk energi.
- Istirahat nan Cukup: Proses pemulihan dan pembentukan otot terjadi saat tidur. Kurang tidur dapat meningkatkan hormon kortisol nan berkarakter katabolik alias merusak otot.
Fokus pada Kualitas, Bukan Sekadar Kuantitas
Dokter menyarankan masyarakat untuk mulai menggunakan perangkat ukur nan lebih komprehensif daripada timbangan biasa, seperti Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) untuk memantau persentase lemak dan massa otot secara berkala.
Dengan menjaga massa otot tetap stabil selama proses penurunan berat badan, tubuh tidak hanya bakal terlihat lebih kencang dan atletis, tetapi juga mempunyai sistem metabolisme nan lebih kuat dan daya tahan tubuh nan lebih baik dalam jangka panjang.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·