Dokter Ingatkan Bahaya Abaikan Nyeri Lutut dan Gangguan Fungsi Sendi

Sedang Trending 3 hari yang lalu
Dokter Ingatkan Bahaya Abaikan Nyeri Lutut dan Gangguan Fungsi Sendi Ilustrasi nyeri sendi.(Dok. Magnific)

DOKTER Spesialis Ortopedi Andito Wibisono, mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan nyeri lutut alias penurunan keahlian bergerak nan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut dapat menjadi indikasi awal adanya gangguan kegunaan sendi nan serius.

"Yang paling utama munculnya sakit, ada nan gangguan fungsi," ujar Andito dalam aktivitas peluncuran ROSA Robotic Surgical Assistant di RS Premier Bintaro, Tangerang Selatan, Kamis (13/8/2026).

Menurut Andito, gangguan pada lutut tidak selalu bermanifestasi sebagai rasa sakit nan tajam. Sebagian pasien justru merasakan penurunan keahlian fisik, seperti tidak lagi bisa menempuh jarak melangkah nan biasanya dilakukan tanpa merasa capek alias kudu sering beristirahat.

"Jalan jadi tidak kuat. Tidak sakit, tapi jarak tempuhnya baru jalan 100 meter sudah pengin duduk," jelasnya memberikan gambaran mengenai penurunan kegunaan tersebut.

Fungsi Lutut Lebih Utama dari Hasil Rontgen

Andito menekankan pentingnya memandang kegunaan dengkul secara holistik. Ia menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan pencitraan seperti rontgen tidak bisa menjadi satu-satunya referensi untuk menentukan tindakan medis, termasuk operasi.

Ia mencontohkan kasus di mana pasien mempunyai perubahan corak kaki secara radiologis, namun secara fungsional tetap bisa beraktivitas dengan baik. "Dia bilang secara rontgen kudu dioperasi. Tapi fungsinya tetap baik, ya tidak saya operasi," tegasnya.

Sebaliknya, pasien dengan kerusakan nan terlihat ringan pada hasil pencitraan tetap memerlukan penanganan intensif jika mengalami nyeri kronis, pembengkakan, alias gangguan kegunaan nan menetap.

Usia dan Teknologi Operasi

Terkait operasi penggantian lutut, Andito menyebut bahwa tindakan ini kebanyakan dilakukan pada pasien berumur di atas 60 tahun. Namun, usia bukan aspek tunggal lantaran kerusakan sendi juga bisa dialami oleh pasien nan jauh lebih muda.

"Biasanya 60 tahun ke atas. Kebanyakan. Tapi ada juga nan usia 25 tahun," katanya. Ia menambahkan bahwa lansia dengan kondisi tulang rawan nan tetap baik tetap diperbolehkan melakukan aktivitas bentuk seperti jogging. Namun, bagi penderita arthritis, disarankan beranjak ke olahraga low impact.

Bagi pasien nan memerlukan tindakan bedah, saat ini tersedia teknologi robotik seperti ROSA nan membantu meningkatkan presisi. Teknologi ini bisa membaca pergerakan hingga kecermatan dua milimeter, nan susah dicapai oleh mata manusia alias emosi master semata.

Meski demikian, Andito menegaskan bahwa teknologi robotik hanyalah perangkat bantu untuk meningkatkan ketepatan tindakan, bukan pengganti peran dokter. Keputusan medis tetap diambil berasas kondisi spesifik dan kebutuhan masing-masing pasien.

Masyarakat diimbau untuk segera melakukan pemeriksaan jika mengalami nyeri dengkul berulang alias kesulitan melangkah agar penanganan dapat dilakukan sebelum gangguan menjadi semakin berat.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia