Fenty menilai, progres pengangkutan sampah itu telah melangkah lebih dari 90 persen dan para pengguna juga sudah mulai tertib melakukan pemilahan sampah organik maupun anorganik.
"Jadi deviasinya sudah kecil, (sampah) pasar juga sudah dipilah dari pedagangnya," ucap dia.
Selain itu, lanjut Fenty, pemilahan sampah sudah dilakukan di sekolah, kantor, maupun perumahan nan juga menjadi pengguna pengangkutan sampah DLH Bantul.
"Tapi untuk sampah di ruang publik memang belum (optimal), seperti taman itu kan banyak penggunanya, progres pemilahan di sana sekitar 65 persen," kata dia.
Menurut Fenty, tantangan pemilahan sampah di ruang publik lebih susah lantaran banyaknya mobilitas orang nan masuk maupun keluar.
"Jadi kami hanya bisa mengimbau untuk terus melakukan pemilahan sampah," terang dia.
Fenty menjelaskan untung dari pemilahan sampah bakal mempercepat proses pengolahan di hilirnya alias Tempat Pengolahan Sampah (TPS).
"Sampah organik nan diolah diambil oleh organisasi maupun lembaga seperti sekolah adiwiyata untuk pupuk di sekolahnya," kata Fenty.
Dia mencontohkan seperti di TPS Pasar Niten, Kasihan, Bantul nan mengolah sampah organik menjadi pupuk, begitu juga beberapa TPS lainnya.
"Kalau nan pupuk tadi, saat ini tetap kami berikan akses cuma-cuma semuanya," jelas Fenty.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·