: Petani mengecek kondisi pompa air tenaga surya untuk mengairi irigasi lahan pertanian padi di Lumajang, Jawa Timur, Senin (6/4/2026).(ANTARA/Irfan Sumanjaya)
MENGHADAPI musim kemarau nan mulai dirasakan di sejumlah wilayah pertanian, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung mulai melakukan peningkatkan langkah antisipasi. Mulai dari pemetaan wilayah rawan kekeringan, penyediaan pompa air, hingga penyiapan bibit tahan kekeringan.
Kepala DKPP Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar Kamis (25/6) menyatakan pemerintah telah mengidentifikasi sejumlah area pertanian nan berpotensi mengalami kesulitan air selama musim kemarau. Terutama di wilayah pertanian nan tersebar di area timur Kota Bandung menjadi wilayah nan paling rentan terdampak andaikan tandus berjalan panjang.
"Kalau memandang sebaran pertanian sawah, banyak berada di wilayah timur seperti Gedebage, Cibiru, Ujungberung, Buahbatu, Mandalajati dan sekitarnya. Itu menjadi titik-titik nan rawan mengalami kekeringan," ungkapnya.
Bahkan kata Gin Gin, sejumlah petani di area Rancasari mulai mengeluhkan berkurangnya debit air nan biasa digunakan untuk mengairi lahan pertanian mereka.
"Petani di Rancasari sudah mulai merasakan air berkurang dan memerlukan support pompa untuk menarik air dari sumber air permukaan. Selain memetakan wilayah rawan kekeringan, pemerintah juga melakukan edukasi kepada petani mengenai teknik budidaya nan lebih adaptif terhadap perubahan iklim," terangnya.
Langkah lainnya sebut Gin Gin adalah memperbaiki akses irigasi sederhana, menyiapkan sumur dangkal alias sumur pantek, serta menyediakan bibit unggul nan mempunyai ketahanan terhadap kekeringan dan masa panen lebih cepat.
"Kami juga mengantisipasi serangan (benih)penyakit dan penyakit nan biasanya muncul saat musim tandus panjang. Karena ancaman bagi petani bukan hanya kekurangan air, tetapi juga meningkatnya gangguan organisme pengganggu tanaman," tuturnya.
Menurut Gin Gin, untuk mendukung kebutuhan air di lapangan, DKPP saat ini mempunyai sekitar 30 unit pompa air nan telah disebarkan kepada golongan tani dan Brigade Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan). Pompa tersebut dapat dipinjam secara cuma-cuma oleh petani nan membutuhkan. Mereka hanya perlu menanggung biaya operasional seperti bahan bakar.
"Peralatan kami siapkan gratis. Petani hanya menanggung biaya operasional. Namun kami juga terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk mendapatkan tambahan support pompa lantaran kebutuhan di lapangan cukup besar," paparnya.
Gin Gin menambahkan, karakteristik pertanian Kota Bandung berbeda dengan wilayah penghasil pangan utama lantaran sebagian besar lahan tetap mengandalkan sistem tadah hujan dan belum didukung jaringan irigasi teknis primer. Kondisi tersebut membikin persoalan air menjadi tantangan nan selalu dihadapi petani, apalagi ketika tidak terjadi tandus panjang.
"Kota Bandung memang tidak mempunyai irigasi teknis seperti wilayah pertanian besar lainnya. Karena itu persoalan air menjadi tantangan sehari-hari bagi petani. Saat tandus datang, upaya nan kudu dilakukan tentu lebih besar lagi," tandasnya.
Meski demikian lanjut Gin Gin, DKPP optimistis beragam langkah mitigasi nan telah dilakukan dapat membantu petani mempertahankan produktivitas pertanian dan menjaga ketahanan pangan Kota Bandung selama musim tandus berlangsung. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·