DIY Masuk Fase Akhir Siklus 200 Tahun Megathrust, Apa yang Harus Dilakukan?

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Ilustrasi gempa bumi. Foto: Shutterstock

Dewan Pembina Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) nan juga mantan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, mengingatkan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa megathrust.

Dalam agenda berbareng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY nan digelar pekan lalu, Dwikorita menyebut wilayah DIY dan selatan Jawa berada pada fase 30 tahun terakhir dari siklus 200 tahun gempa. Hal itu merujuk pada studi master Geodesi dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Angka siklus tersebut menurutnya bukan prediksi kepastian waktu kejadian, melainkan dasar ilmiah untuk kesiapsiagaan dan perencanaan prasarana nan mempertimbangkan akibat gempa dan tsunami.

"Yang saya sampaikan dalam webinar, saya menyitir master dari Geodesi ITB lantaran keilmuan nan paling tepat untuk menghitung itu memang beliau, makanya saya menyebut hasil studi Geodesi ITB," kata Dwikorita saat dikonfirmasi Pandangan Jogja, Rabu (22/4).

"Kalau untuk waktu, akurasinya itu tetap rendah. Kalau kita katakan 200, belum tentu 200 persis. Siklus 200 tahun dan saat ini memasuki periode 30 tahun terakhir ada penelitian Geodesi ITB, bukan untuk menakut-nakuti tapi untuk membangun kesiapsiagaan," tambahnya.

Dewan Pembina Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) nan juga mantan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati. Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO

Dwikorita menegaskan bahwa gempa megathrust tidak dapat dipastikan terjadi sesuai perkiraan waktu. Ia merujuk pada gempa Palu 2018, nan sebelumnya diprediksi bakal terjadi pada tahun 2000 oleh peneliti pada 1970-an, namun meleset nyaris dua dekade.

"Isu besarnya itu kesiapsiagaan, bukan angka, lantaran jika nomor itu tidak bisa akurat. Dulu tahun 1970-an ada nan memprediksi patahan di Palu diperkirakan bakal bergerak di 2000, ini dibuat agar siaga dan waspada, terjadinya di 2018, artinya kan tidak jeli 100 persen," ujarnya.

Dwikorita meminta masyarakat tidak lengah dan terus membangun kesiapsiagaan melalui simulasi bencana. Ia juga mendorong Pemerintah Daerah DIY agar melakukan pengecekan rutin sistem peringatan dini.

"Penekanannya itu adalah agar masyarakat jangan lengah, tetap membangun kesiapsiagaan tetapi jangan takut. Setiap bulan sirine peringatan awal kudu selalu dites untuk menjamin bahwa sistemnya tidak macet," kata Dwikorita.

BMKG: Gempa Tidak Bisa Diprediksi, Fokus pada Peringatan Dini

Kepala Stasiun Geofisika Sleman, Ardhianto Septiadhi. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti

Kepala Stasiun Geofisika Sleman, Ardhianto Septiadhi, menegaskan bahwa konsep siklus gempa dalam kajian ilmiah bukan perangkat prediksi waktu kejadian. Hingga saat ini, belum ada teknologi nan bisa memprediksi gempa secara akurat, baik dari segi waktu maupun magnitudo.

Pendekatan nan ditempuh adalah memperkuat sistem peringatan awal dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

"Untuk kapan, gempa bumi tidak bisa diprediksi. Jadi kenapa intelektual membikin potensi itu adalah untuk membangun kesiapsiagaan, bukan untuk memprediksi kapan terjadi," kata Ardhi saat ditemui Pandangan Jogja di kantornya, Selasa (21/4).

Dokumentasi gempa Jogja 2026. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti

Ardhi menjelaskan perbedaan antara nan dapat dan tidak dapat dipastikan mengenai gempa megathrust. Keberadaan sumber gempa di Indonesia adalah kebenaran pengetahuan bumi nan tidak bisa dihindari, sementara waktu dan kekuatan gempa tetap tidak dapat diketahui sebelumnya.

"Yang bisa dipastikan, kita tinggal di wilayah nan terdapat sumber gempa bumi. Kita juga bisa memastikan bahwa negara membangun sistem peringatan awal nan berkembang menuju cepat, tepat, dan akurat," ujar Ardhi.

"Yang tidak bisa dipastikan adalah kapan terjadinya gempa bumi. Magnitudonya juga belum bisa dipastikan secara prediktif, nan perlu kita pastikan dari masing-masing manusia adalah kesiapsiagaannya," ujarnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan