Menteri Transmigrasi di Peking University
BEIJING – Pendidikan, peningkatan keterampilan, dan perubahan pola pikir masyarakat menjadi perhatian dalam pembangunan pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia. Pembangunan prasarana dan masuknya investasi dinilai perlu diimbangi dengan penguatan sumber daya manusia agar masyarakat dapat memanfaatkan kesempatan ekonomi secara berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara dalam kuliah umum berjudul *Industrialisation Beyond Java: Transmigration and Indonesia’s New Growth Centres* di Institute of South-South Cooperation and Development (ISSCAD), Peking University, Beijing, Senin (12/10/2026).
Dalam obrolan berbareng akademisi Peking University, Iftitah menekankan bahwa pembangunan area transmigrasi tidak cukup hanya mengandalkan penyediaan lahan, infrastruktur, teknologi, dan investasi. Masyarakat juga perlu mendapatkan akses pendidikan dan pendampingan agar bisa mengembangkan keahlian serta beradaptasi dengan perubahan kebutuhan ekonomi.
Menurut Iftitah, keterbatasan pendidikan dan tenaga kerja terampil merupakan tantangan nan perlu ditangani berbarengan dengan pembangunan fisik. Perubahan pola pikir juga diperlukan agar masyarakat terbuka terhadap pengetahuan dan langkah kerja baru.
Ia menilai proses tersebut memerlukan waktu, pendidikan, keteladanan, serta kesempatan bagi masyarakat untuk mempraktikkan pengetahuan nan diperoleh.
Pendidikan Tidak Hanya Berlangsung di Ruang Kelas
Pentingnya pendidikan berbasis praktik turut dibahas ketika Profesor Wang Jinjie dari ISSCAD menanyakan peran pertukaran antardesa, pelibatan generasi muda, dan training masyarakat dalam mendorong pembangunan kawasan.
Menanggapi perihal itu, Iftitah menjelaskan bahwa Kementerian Transmigrasi melibatkan profesor, peneliti, dan mahasiswa untuk mendampingi masyarakat di area transmigrasi. Pendekatan tersebut diarahkan untuk membantu menyelesaikan persoalan nyata nan dihadapi warga.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·