Fenomena “war kursi” pengarahan belajar (bimbel) terjadi di Yogyakarta. Ratusan orang tua rela menginap dan datang sejak subuh demi mendapatkan antrean pendaftaran di bimbel Exist nan berada di sebuah gang di Jalan Gayam, Gondokusuman, Kota Yogyakarta.
Para orang tua tersebut merasa perlu menambah bekal pendidikan anak agar mendapat nilai memuaskan dalam Asesmen Standardisasi Pendidikan Daerah (ASPD) dan Tes Kemampuan Akademik (TKA) DIY.
Nilai tersebut dapat digunakan untuk masuk ke SMAN nan dituju melalui jalur Domisili Wilayah ataupun Prestasi.
Menanggapi kejadian tersebut, Kepala Disdikpora DIY Raden Suci Rohmadi mengatakan kondisi itu tidak bisa langsung disimpulkan sebagai corak ketimpangan kualitas antar-SMA negeri di Yogyakarta.
"Setiap sekolah memang mempunyai karakteristik, lingkungan belajar, program, budaya sekolah, dan kelebihan masing-masing. Masyarakat juga tentu mempunyai preferensi berasas pengalaman dan persepsi nan berkembang di masyarakat. Itu sesuatu nan wajar," kata Suci dikonfirmasi, Kamis (3/9).
Suci mengatakan perhatian pemerintah wilayah saat ini adalah memastikan mutu pendidikan terus meningkat dan semakin merata di seluruh SMA negeri di DIY.
"Jadi jangan sampai keberhasilan pendidikan anak hanya dipersepsikan ditentukan oleh apakah anak masuk sekolah tertentu alias tidak," katanya.
Pemda DIY tidak mau membangun paradigma bahwa hanya sekolah tertentu nan baik. Suci mau seluruh SMA di DIY mempunyai kualitas nan semakin baik, dengan karakter dan kelebihan masing-masing.
"Saya kira tidak tepat jika kita membikin pemeringkatan sekolah mana nan paling bagus. Setiap sekolah mempunyai karakter dan kelebihan masing-masing. nan lebih krusial adalah memastikan setiap sekolah terus meningkatkan mutunya dan anak mendapatkan sekolah nan sesuai dengan potensi dan kebutuhannya," katanya.
Persepsi Sekolah Favorit Masih Kuat
Menurut Suci, tetap banyak orang tua nan terbawa persepsi masa silam bahwa SMA tertentu mempunyai kualitas lebih baik daripada SMA lainnya.
Padahal, menurut dia, kualitas SMA negeri di DIY saat ini semakin merata.
"Secara umum kita terus mendorong agar kualitas SMA negeri di DIY semakin merata. Tetapi kita juga memahami bahwa persepsi masyarakat terhadap sekolah tidak berubah dalam waktu singkat. Ada persepsi nan terbentuk dari pengalaman, sejarah, prestasi, maupun info nan berkembang selama bertahun-tahun," katanya.
Ke depan, kata Suci, pemerintah tidak hanya perlu meningkatkan kualitas sekolah, tetapi juga memperkuat komunikasi dan info kepada masyarakat agar mereka mendapatkan gambaran nan lebih utuh mengenai potensi dan kelebihan masing-masing sekolah.
"Karena itu tentu perlu kolaborasi. Tidak hanya antara Dinas Dikpora DIY dengan SMA, tetapi juga dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan satuan pendidikan SMP. Anak-anak SMP dan orang tua perlu mendapatkan info nan objektif mengenai beragam pilihan SMA, termasuk karakter program, lingkungan belajar, prestasi, aktivitas pengembangan minat dan bakat, serta beragam kelebihan nan dimiliki masing-masing sekolah," katanya.
"Jadi sosialisasinya bukan untuk mengatakan bahwa sekolah ini favorit, tidak favorit, alias mengubah pilihan orang tua. Tetapi kita mau memastikan bahwa ketika orang tua dan anak menentukan pilihan, keputusannya berasas info nan komplit dan sesuai dengan potensi, minat, serta kebutuhan anak," ujarnya.
Orang Tua Diminta Tak Beri Tekanan Berlebihan
Terkait orang tua nan mempersiapkan anak melalui bimbel untuk menghadapi ASPD maupun TKA, Suci memahami perihal tersebut sebagai bagian dari ikhtiar orang tua.
Suci mengatakan antusiasme orang tua terhadap pendidikan anak merupakan perihal positif. Hal ini menunjukkan masyarakat Yogyakarta tetap menempatkan pendidikan sebagai investasi krusial untuk masa depan anak.
"Tetapi kami berambisi persiapan tersebut tetap proporsional dan tidak memberikan tekanan berlebihan kepada anak," katanya.
Menurutnya, pendidikan anak tidak hanya soal nilai akademik alias diterima di sekolah tertentu. Hal nan tidak kalah krusial adalah karakter, kemandirian, kreativitas, keahlian beradaptasi, serta gimana anak merasa nyaman dan berkembang dalam proses belajarnya.
"Harapan kami, orang tua dalam memilih sekolah lebih memandang kesesuaian dengan potensi, minat, bakat, dan kebutuhan anak. Jangan sampai anak merasa bahwa masuk ke sekolah tertentu adalah satu-satunya ukuran keberhasilan," pungkasnya.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·