Disabilitas Menjadi Lelucon: Apa yang Salah dengan Pendidikan Empati Kita?

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Dok: Istock

Dalam beberapa waktu terakhir, media sosial diramaikan dengan konten parodi oleh beberapa pembuat konten nan menirukan kondisi penyandang disabilitas. Banyak orang nan beranggapan bahwa parodi disabilitas hanyalah sebagai intermezo tetapi sebagian dari pengguna media sosial juga mengkritik lantaran dinilai nirempati dan merendahkan golongan penyandang disabilitas. Fenomena ini memicu pertanyaan nan mendasar terhadap masyarakat nan menganggap disabilitas sebagai bahan candaan.

Kontroversi muncul ketika ramainya konten pembuat nan membikin video meniru langkah bicara, langkah melangkah maupun kondisi bentuk nan identik dengan penyandang disabilitas. Konten tersebut memicu respons masyarakat nan dapat dilihat pada banyaknya tayangan dan ribuan komentar.

Munculnya perdebatan antara “sekadar bercanda” dan “diskriminasi”, sebagian besar konten tersebut dianggap sebagai intermezo nan kocak tetapi juga mendapatkan kritik dari masyarakat seperti organisasi disabilitas, kerabat nan anaknya menyandang disabilitas, serta masyarakat nan secara sadar menganggap perihal tersebut salah.

Ableisme nan Tidak Terlihat dibalik Lelucon

Dalam perspektif sosiologi, persoalan utama terletak pada pesan sosial nan diciptakan. Fenomena ini dapat dilihat dalam perspektif Howard Becker ialah pelabelan sosial pada perseorangan bukan hasil dari tindakan nan dilakukan, melainkan proses sosial nan melibatkan penilaian, hubungan dan kekuasaan dalam masyarakat.

Pelabelan ini bakal membentuk identitas sosial perseorangan dengan mengubah langkah pandang perseorangan terhadap dirinya sendiri, sehingga memengaruhi perilaku mereka ke depannya. Ketika disabilitas dijadikan objek lelucon, masyarakat bakal menormalisasikan perihal tersebut dengan menganggap kondisi penyandang disabilitas sebagai sesuatu nan layak ditertawakan.

Adanya kejadian ini menunjukkan bahwa ableisme tetap hidup dalam masyarakat. Ablesime merupakan pandangan nan merendahkan dan membedakan golongan dengan keahlian berbeda alias disabilitas melalui keahlian tubuh nan disetarakan dengan orang nan mempunyai keahlian lebih unggul.

Hal tersebut memicu diskriminasi nan ditunjukkan lewat perkataan maupun tindakan, diskriminasi nan dialami oleh golongan disabilitas muncul dalam beragam corak seperti sosial, hukum, ekonomi, kepercayaan serta pemenuhan kewenangan dasar pada penyediaan akomodasi umum bagi golongan disabilitas. Dalam perihal ini, golongan disabilitas tidak selalu mengalami diskriminasi dalam corak penolakan langsung, tetapi juga melalui representasi nan merendahkan dalam budaya terkenal dan media sosial.

Membangun Budaya Inklusif Bukan Sekadar Sekolah Inklusif

Fenomena ini juga menyoroti bahwa pendidikan inklusif tidak sekadar menyediakan akomodasi bentuk alias penerimaan siswa disabilitas tetapi terdapat masalah mendasar nan tetap menjadi tantangan besar saat ini ialah kurangnya budaya inklusi dalam kesadaran kolektif masyarakat. Sejauh ini, pendidikan inklusif hanya dianggap sebagai penyediaan kesempatan pendidikan bagi siswa penyandang disabilitas. Padahal, tujuan sebenarnya terletak pada keberhasilan menciptakan lingkungan sosial nan menghargai keragaman dan perbedaan.

Dalam perspektif pedagogi kritis, pendidikan mempunyai tanggung jawab untuk membentuk pemahaman siswa tentang realitas sosial, seringkali sekolah mengutamakan prestasi akademik dengan mengorbankan empati sosial. Akibatnya, siswa boleh jadi memahami konsep disabilitas secara teoritis tetapi kurang peka terhadap pengalaman hidup golongan disabilitas. Dalam pembelajaran di sekolah, krusial untuk mengangkat rumor kesetaraan, hak-hak penyandang disabilitas, dan pengalaman golongan nan rentan secara sosial.

Apa nan Salah dengan Pendidikan Empati Kita?

Fenomena ini dapat dijelaskan oleh pemikiran Paulo Freire nan menekankan bahwa pendidikan kudu menumbuhkan keahlian berpikir kritis agar setiap manusia memahami dan mengubah realitas sosial mereka, maka pendidikan tidak boleh menjadi perangkat kekuasaan melainkan menjadi sarana pembebasan bagi mereka nan tertindas.

Dalam konteks parodi disabilitas ini, berpikir kritis sangat krusial agar masyarakat dapat memahami bahwa sesuatu nan tampak kocak bagi beberapa orang dapat menjadi corak penghinaan bagi orang lain. Kelompok disabilitas nan menonton perilaku ableisme tersebut menakut-nakuti kesehatan mental nan dapat memicu rasa malu, kekhawatiran maupun depresi.

Tantangan terbesar pada masyarakat modern saat ini adalah menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah arus info nan cepat. Keberhasilan pendidikan dapat diukur dari keahlian untuk menghormati keragaman dan memperlakukan semua golongan dengan nilai nan sama. Masyarakat nan betul-betul inklusif adalah masyarakat nan memastikan bahwa tidak ada golongan nan direndahkan lantaran mempunyai keahlian berbeda.

Pada hakikatnya, tanggung jawab atas persoalan nan melekat pada parodi tentang penyandang disabilitas bukan hanya pada para konten pembuat nan membikin konten parodi tersebut. Fenomena ini menggambarkan masyarakat nan terus membiarkan bentuk-bentuk diskriminasi lembut nan dianggap lucu.

Perubahan tidak dapat berjuntai pada satu perseorangan saja tetapi sekolah juga mempunyai tanggung jawab untuk mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan, media perlu memastikan gambaran nan setara dan platform digital kudu mencegah penyebaran konten nan merendahkan. Pada saat nan sama, masyarakat bertanggung jawab untuk menciptakan budaya nan menghormati keragaman.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan