Dinkes: Korban Daycare Little Aresha Alami Gangguan Pertumbuhan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta, DIY, membeberkan hasil asesmen terhadap sejumlah anak nan menjadi korban di tempat penitipan anak (daycare) Little Aresha Jogja.

Hasilnya, belasan anak terindikasi mengalami indikasi gizi kurang dan gangguan tumbuh kembang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala Dinkes Kota Jogja, Emma Rahmi Aryani mengatakan pemeriksaan tak hanya dilakukan terhadap korban nan terdata dalam laporan polisi. Pemeriksaan juga dilakukan kepada semua anak nan keluarganya mengadu ke tim unik Pemkot Jogja nan menangani kasus ini.

"Kemarin lantaran dibuka [layanan aduan], dibuka untuk nan alumni [daycare] itu juga bisa periksa kemarin," kata Emma saat dihubungi wartawan, Senin (4/5).

"Sebetulnya kan kemarin ada 149 [anak nan terdata], tapi kemarin nan baru diperiksa 131 [anak]. Tapi nan [sudah diperiksa] gizinya itu 125 jika nggak keliru, lantaran ada nan kesuwen [kelamaan] nunggu alias gimana kan ya, belum sempat diperiksa psikolognya," sambungnya.

Dari ratusan anak nan telah diasesmen, Emma menjelaskan, belasan anak di antaranya terindikasi kurang gizi dan belasan anak lainnya terganggu perkembangannya. Gangguan perkembangan nan dialami seperti indikasi Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas alias ADHD hingga keahlian perkembangan bicara lebih lambat (speech delay).

"Kalau kemarin itu 17 [anak] nan masalah gizi, nan [gangguan] perkembangan ada 13 [anak]. [Gangguan] perkembangan itu ada nan hiperaktif, ada nan autis. Ya itu baru pemeriksaan sementara kelak kan itu kudu diperiksa lagi," ungkapnya.

"Itu kecenderungan ke sana, jadi kemarin belum didiagnosis pasti, baru sementara. Itu nan speech delay ada tiga (anak), terus ada nan hiperaktif, ADHD, bahasanya ADHD," lanjut Emma.

Emma menjelaskan, bagi anak nan terindikasi gizi kurang bakal ditindaklanjuti dan didampingi puskesmas dekat domisili anak dengan Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Dia menerangkan di puskesmas telah tersedia tim nan terdiri dari dokter, bidan, nutrisionis, hingga psikolog.

Sedangkan bagi anak nan terindikasi mengalami gangguan perkembangan bakal dilakukan pemeriksaan lanjutan. Hasilnya bakal dijadikan referensi untuk pemberian terapi selanjutnya.

"Kalau nan [masalah] pertumbuhan, jika memang tetap bisa, ya kelak ditindaklanjuti oleh psikolog puskesmas. Kan kemarin juga psikolog puskesmas nan memeriksa. Lha kelak jika memang kudu rujuk, ya kelak kita rujuk gitu," kata Emma.

Menurut Emma, proses pengobatan anak nan mengalami gangguan pertumbuhan memerlukan waktu nan tidak sebentar. Masing-masing anak juga memerlukan waktu nan berbeda-beda sembari terus dipantau perkembangannya.

"Psikolognya kelak bisa merencanakan terapinya gitu, apakah kelak terapinya bagaimana, butuh waktu paling tidak 6 bulan lah, kelak kita pertimbangan lagi. Ya beda-beda, tergantung tingkat keparahan dari dia, itu gangguan perkembangannya sampai di mana," ujar Emma.

"Dari 13 (anak) itu mungkin ada nan ringan, sehingga mungkin terapinya tidak lama, 3 bulan sudah bisa. Jadi dari 13 itu pun tetap kudu diperiksa lagi secara perincian lantaran kan kemarin baru di UPT," sambungnya.

Kasus kekerasan dan penelantaran anak ini terbongkar setelah polisi menggerebek Daycare  Little Aresha di Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja bulan lalu. Penggerebekan itu berangkaian dengan laporan penganiayaan nan menimpa sejumlah anak di bawah umur.

Saat digerebek, petugas mendapati anak-anak nan dititipkan orang tuanya di daycare itu dalam kondisi diikat tangan dan kaki, serta tak berbusana--hanya popok.

Sejauh ini polisi telah menetapkan 13 tersangka dalam kasus ini. Para tersangka itu adalah DK (51), AP (42), FN (30), NF (26), Lis (34), EN (26), SRm (54), DR (32), HP (47), ZA (30), SRj (50), DO (31), dan DM (28).

DK adalah ketua yayasan dan juga pemilik daycare tersebut, AP adalah kepala sekolah, sementara sebelas lainnya berkedudukan sebagai pengasuh anak di daycare tersebut.

Baca buletin lengkapnya di sini.

(kid/ugo)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional