Awal Mula dan Arah Green Jobs
Upaya menjaga lingkungan hidup, mengurangi emisi karbon, dan merespons perubahan suasana mendorong lahirnya konsep green jobs sejak tahun 2007.
Inisiatif ini diprakarsai dan dibentuk melalui kemitraan antara ILO (International Labour Organization), Program Lingkungan PBB (United Nations Environment Programme), dan Konfederasi Serikat Pekerja Internasional (International Trade Union Confederation), kemudian diperkuat oleh Organisasi Pengusaha Internasional (International Organization of Employers) nan berasosiasi pada tahun 2008. Green jobs bukan sekadar pekerjaan “ramah lingkungan”, melainkan juga pekerjaan nan mendukung keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Di Indonesia, arah pengembangannya mulai terlihat jelas. Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia menargetkan penerapan dan penguatan green jobs dalam periode 2025—2029. Salah satu sektor nan menjadi potensi utama pengembangan green jobs adalah daya baru dan terbarukan (EBT).
Melalui rencana penyelenggaraan RUPTL PT PLN tahun 2025—2034, pengembangan EBT diperkirakan dapat membuka sekitar 760 ribu lapangan green jobs (ANTARA News, 2025).
Bahkan, menurut Kompas.com, Indonesia berpotensi menciptakan sebanyak 6,31 hingga 10,19 juta green jobs pada tahun 2060. Angka ini menunjukkan bahwa green jobs bukan kesempatan kecil, melainkan masa depan pasar kerja itu sendiri.
Ironinya Peluang Besar, tapi Pengangguran Masih Tinggi
Di kembali potensi tersebut, ada realitas nan cukup kontras. Berdasarkan info GoodStats tahun 2025, jumlah pengangguran di Indonesia tetap didominasi oleh Gen Z. Kelompok usia 15—19 tahun mencapai sekitar 1,5 juta jiwa, sementara golongan usia 20—24 tahun apalagi lebih dari 2,3 juta jiwa.
Jika memandang info potensi lapangan pekerjaan hijau (green jobs) dan info pengangguran nan didominasi Gen Z secara bersamaan, muncul pertanyaan besar: Mengapa kesempatan sebesar ini belum bisa menyerap tenaga kerja muda? Secara logika, green jobs bisa menjadi solusi strategis untuk mengurangi pengangguran. Namun, dalam praktiknya, tetap ada kesenjangan nan membikin kesempatan ini belum betul-betul terkoneksi dengan kebutuhan generasi muda, terutama Gen Z.
Minat Gen Z nan Mulai Tumbuh
Di sisi lain, minat Gen Z terhadap rumor lingkungan dan green jobs sebenarnya terus meningkat. Banyak anak muda mulai aktif dalam komunitas, organisasi, maupun volunteer yang berfokus pada program pelestarian lingkungan dan mengurangi limbah.
Salah satu contoh nan cukup dikenal banyak orang ialah Pandawara Group, nan aktif melakukan tindakan membersihkan sungai hingga mengelola sampah. Kehadiran organisasi seperti ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan sudah mulai tumbuh di kalangan anak muda.
Namun, minat ini sering kali berakhir di level aktivitas sosial, belum berkembang menjadi arah pekerjaan nan jelas. Banyak nan peduli, tapi belum tahu gimana menjadikannya sebagai profesi.
Tantangan Ketika Minat Belum Bertemu Arah nan Pasti
Di sinilah letak persoalan utama: tingginya minat terhadap green jobs rupanya tidak otomatis berbanding lurus dengan kesiapan sistem nan mendukungnya.
Pertama, minimnya kesadaran dan pemahaman mengenai green jobs. Banyak orang tetap memandang green jobs sebagai sesuatu nan sempit, misalnya hanya mengenai pekerjaan di bagian lingkungan, seperti penanaman pohon alias pengelolaan sampah. Padahal, green jobs mencakup beragam sektor. Kurangnya edukasi nan terstruktur membikin masyarakat tidak memandang luasnya kesempatan nan ada.
Kedua, kurang meratanya akses informasi. Meskipun pemerintah dan beragam lembaga sudah mulai menyediakan info mengenai green jobs, penyebarannya tetap terbatas. Informasi sering kali hanya tersebar di kota besar alias kalangan tertentu. Akibatnya, banyak anak muda di wilayah tidak mendapatkan akses nan sama untuk mengetahui kesempatan green jobs.
Ketiga, ketidakseimbangan antara kompetensi lulusan pendidikan dan kebutuhan lapangan green jobs. Dunia pendidikan belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan industri green jobs nan terus berkembang. Banyak lulusan nan mempunyai minat, tetapi tidak mempunyai keahlian nan dibutuhkan, seperti pemahaman tentang teknologi hijau alias daya terbarukan. Akibatnya, perusahaan kesulitan mencari tenaga kerja nan betul-betul siap dan kompeten.
Keempat, keterbatasan training dan akses pengembangan skill untuk green jobs. Program training sebenarnya sudah mulai ada, tetapi belum terintegrasi dan belum tersebar secara merata. Tidak semua orang tahu di mana kudu belajar, apa nan dipelajari, dan gimana mengakses pelatihannya. Bagi sebagian Gen Z, perihal ini menjadi halangan untuk masuk ke sektor green jobs lantaran merasa tidak punya jalur masuknya.
Kelima, prospek kariernya tidak pasti. Berbeda dengan pekerjaan konvensional nan sudah mempunyai pekerjaan nan jelas, green jobs tetap dianggap sektor baru nan belum stabil. Banyak Gen Z nan ragu dan bertanya-tanya: Apakah pekerjaan ini menjanjikan? Bagaimana dengan gajinya? Apakah bisa memperkuat dalam jangka panjang? Ketidakjelasan ini membuat green jobs kalah saing dengan sektor lain nan terlihat lebih kondusif dan pasti.
Jika ditarik lebih dalam, semua tantangan tersebut berakar pada satu hal, ialah minimnya navigasi. Gen Z tidak kekurangan minat, tetapi kekurangan arah nan pasti. Mereka tidak tahu kudu mulai dari mana, belajar apa, dan gimana masuk ke sektor green jobs.
Mendorong Solusi nan Lebih Terarah
Solusi nan dibutuhkan tidak hanya menambah program, tetapi juga memastikan adanya sistem nan terintegrasi. Pemerintah perlu memastikan pengedaran info nan lebih merata, kebijakan alias izin mengenai green jobs juga perlu diperjelas—mulai dari standar pekerjaan hingga kepastian penghasilan—dan penguatan pendidikan serta pelatihan. Program upskilling dan reskilling harus dirancang sesuai kebutuhan industri dan dapat diakses secara luas.
Kemudian, optimasi penggunaan website, aplikasi, alias platform-platform nan mendukung mengenai green jobs, salah satunya website Coaction Indonesia nan mendukung transisi daya terbarukan dengan langkah berbagi pengetahuan, kolaborasi, dan advokasi.
Sebetulnya green jobs bukan sekadar tren, melainkan juga kebutuhan masa depan dengan menawarkan solusi untuk dua masalah sekaligus, ialah krisis lingkungan dan suasana serta pengangguran. Minat Gen Z sudah ada, apalagi terus tumbuh. Namun, tanpa navigasi nan jelas dan merata, potensi ini hanya bakal sebagai wacana nan mengakibatkan dilema green jobs pun menjadi nyata di mana kesempatan terbuka luas, tetapi jalan untuk mencapainya tersendat alias belum sepenuhnya terlihat.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·