Diduga akibat Upwelling, Puluhan Ton Ikan Air Tawar di Perairan Jangari Cianjur Mati Mendadak

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Diduga akibat Upwelling, Puluhan Ton Ikan Air Tawar di Perairan Jangari Cianjur Mati Mendadak MATI MASSAL: Para petani ikan KJA di Perairan Jangari di Desa Cikidangbayabang Kecamatan Mande Kabupaten Cianjur mengumpulkan ikan nan meninggal mendadak akibat kejadian upwelling.(MI/Benny Bastiandi)

PERAIRAN Waduk Jangari di Desa Cikidangbayabang Kecamatan Mande Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, diduga mengalami upwelling. Akibatnya, puluhan ton budi daya ikan air tawar di kolam jaring apung (KJA) meninggal massal.

Muhyi, 37, petani ikan KJA, mengatakan kematian massal ikan sudah terjadi sejak pekan lalu. Terutama di KJA nan berada Blok Salam. 

"Cukup banyak nan mati. Biasanya ini lantaran upwelling," kata Muhyi, Senin (14/9). 

Upwelling merupakan kejadian naiknya gelombang arus bawah perairan. Kondisi itu mengakibatkan beragam kotoran, terutama jejak pakan, ikut naik ke permukaan.

Hal ini menyebabkan kandungan oksigen menjadi berkurang. Fenomena ini biasanya terjadi saat cuaca ekstrem, seperti tandus panjang nan disertai peningkatan suhu dan angin kencang.

Muhyi menyebutkan, di Blok Salam jumlah ikan ton nan meninggal ditaksir mencapai 10 ton. Termasuk ikan budi daya miliknya. 

Diestimasi, secara nominal total nilai kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. "Kalau secara keseluruhan mungkin bisa mencapai Rp250 juta kerugiannya," pungkasnya. 

Dadan, petani ikan lainnya, menyebut kejadian upwelling merupakan kejadian nan kerap berulang setiap tahun. Terutama saat memasuki musim kemarau. 

"Debit airnya kan menyusut. Kemudian cuaca panas ekstrem dan angin kencang membikin kondisi air menjadi tidak stabil sehingga sangat rentan terhadap kondisi  ikan," tutur Dadan. 

Di perairan Jangari rata-rata para petani membudidayakan jenis ikan mas dan bawal. Dadan mengaku pasrah dengan kondisi itu.

"Membudidayakan ikan itu sangat lama. Belum lagi biayanya sangat besar. Tapi ya mau gimana lagi. nan jelas dengan kondisi ini para petani mengalami kerugian cukup besar," pungkasnya. (BB/E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia