Kapten Timnas Wanita Iran, Zahra Ghanbari, tengah dihadapkan oleh situasi susah usai kepulangannya ke tanah air. Aset miliknya dilaporkan resmi disita oleh otoritas kehakiman Republik Islam Iran di tengah tudingan bahwa dia mendukung pihak oposisi.
Kasus ini langsung menjadi sorotan lantaran sebelumnya Ghanbari sempat berada di Australia untuk tampil di Piala Asia Wanita 2026 berbareng Timnas Wanita Iran.
Dalam turnamen nan digelar pada 1-21 Maret itu, dia dan rekan setimnya sempat menolak menyanyikan lagu kebangsaan. Aksi tersebut kemudian memicu tekanan dari dalam negeri dan membikin mereka dicap sebagai “pengkhianat”.
Situasi semakin memanas ketika sejumlah pemain, termasuk Ghanbari, sempat mengusulkan suaka alias visa kemanusiaan di Australia. Namun, dia dan kelima rekannya membatalkan keputusan tersebut, kurang dari 24 jam setelah pengajuan.
Menurut laporan media Barat, di bawah beragam tekanan—mulai dari ancaman terhadap family hingga janji-janji dari pihak berwenang—Ghanbari dan lima pemain lainnya nan sempat mengusulkan suaka akhirnya memilih kembali ke Iran.
Setibanya di Iran, Ghanbari apalagi sempat tampil dalam wawancara televisi pemerintah. Ia menyatakan bahwa dirinya pulang demi negara dan keluarganya, meski sebelumnya ada tawaran untuk tinggal di Australia dengan pemisah waktu maksimal satu tahun.
Meski sempat dijanjikan aman, realita berbicara lain. Otoritas kehakiman Republik Islam Iran sekarang justru memerintahkan penyitaan seluruh aset miliknya.
Lebih dari 400 Orang Terdampak
Ghanbari bukanlah satu-satunya penduduk negara Iran nan mengalami kejadian ini. Otoritas kehakiman Republik Islam Iran dilaporkan telah memerintahkan penyitaan aset milik lebih dari 400 orang nan dilabeli sebagai “pendukung musuh”.
Di antara nama-nama tersebut, ada dua eks pemain Timnas Iran. Mereka adalah Ali Karimi dan Masoud Shojaei.
Karimi, nan saat ini tinggal di Amerika Serikat, dikenal sebagai kritikus nan vokal terhadap pemerintah sejak 2022. Meski sebelumnya disebut telah memindahkan asetnya ke luar negeri, pihak kehakiman memastikan bahwa asetnya nan tetap berada di Iran tetap disita.
Sementara itu, Shojaei juga dilaporkan kehilangan asetnya setelah menyuarakan support kepada masyarakat lewat media sosial, terutama saat unjuk rasa besar-besaran di Iran pada akhir 2025.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·